Anemia Ternyata Bisa Menurunkan IQ Sampai 10%

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

BOLAQIUQIU, Berita Akurat – Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia ( FEMA ) IPB, Dodik Briawan mengatakan bahwa anemia pada anak usia kurang dari 2 tahun akan mengganggu perkembangan syarat otak atau kemampuan kognitif, bahkan hal itu bisa menurunkan IQ sampai 10%.

“Di Bogor, 1 dari 5 remaja mengalami anemia. Anemia dapat menurunkan kemampuan kerja dan kemampuan kognitif sebesar 20% dan bersifat permanen,” kata Dodik pada kegiatan praorasi guru besar IPB di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, anemia merupakan masalah gizi mikro yang dialami oleh hampir seluruh negara. Jumlah penderitanya diperkirakan mencapai 2 miliiar orang atau sepertiga dari populasi dunia. Penderita anemia paling banyak berasal dari Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika.

Secara umum, 50% kejadian anemia akrena kurangnya asupan zat besi sehingga disebut Anemia Gizi Besi atau AGB. Anemia sudah dikenal sejak pertengahan abad ke-16 di Eropa dengan nama chlorosis.

“Cara pengobatannya sudah diketahui pada saat ini dengan garam besi. Dalam 1 haru, kebutuhan manusia akan zat besi hanya 60 miligram per hari dan bisa tercukupi dengan mengonsumsi daging, telur dan ayam,” kata pakar gizi IPB ini.

Dia menyebutkan, akan ada fenomena loss generation ( kehilangan generasi ) dan bisa mengakibatkan kematian karena menurunnya imunitas akibat anemia. AGB terjadi karena rendahnya kualitas konsumsi pangan. Sebagian besar penduduk Indonesia mengonsumsi beras 97,7%, sayuran 79,1%.

Pola diet  yang dilakukan tersebut dapat meningkatkan resiko anemia gizi besi, anemia karena infeksi dan penyebab lainnya seperti infeksi cacing dan malaria, serta inflamasi karena TB dan HIV/AIDS.

Hasil penelitian mahasiswa Program Magister IPB tahun 2016 mengungkapkan bahwa estimasi kerugian ekonomi bangsa Indonesia terhadap kasus anemia mencapai Rp 62 triliun atau setara dengan 0,711 % PDB.

“Kerugian ekonomi pada anak balita dan sekolah sebesar Rp 1,3 juta, remaja Rp 830 juta, wanita dewasa Rp 1,9 juta, dan laki-laki dewasa Rp 2,8 juta perkapita per tahun,” ucapnya.

Dodik menambahkan bahwa pemerintah telah melakukan beberapa program untuk menangani AGB, yaitu melalui fortifikasi pangan, suplementasi zat besi, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) gizi, dan peningkatan kualitas konsumsi pangan.

“Bank Dunia tahun 2016 menyatakan bahwa dengan investasi US$ 1 untuk perbaikan anemia pada kelompok wanita usia subur akan mengembalikan uang sebesar US$ 12, artinya investasi di bidang gizi khususnya anemia sangat menguntungkan,” pungkasnya.

 

Sumber: Brilio.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *