Bitcoin, Idola Para CyberCriminal

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

BOLAQIUQIU, Berita Akurat – Serangan ransomware semakin masif dan mengglobal. Pada pekan lalu, ransomware menyerang hingga 150 negara, termasuk Indonesia, Inggris sampai Rusia, negara yang terkenal dengan keamanan cyber tingkat tinggi. Rumah sakit pun ikut menjadi sasaran mereka. Di Indonesia, setidaknya ada 2 rumah sakit menjadi korban serangan, yaitu Rumah Sakit Dharmais dan Rumah Sakit Harapan Kita.

Malware Hunter Team memetakan lokasi serangan dan menyebarkannya melalui laman Twitter pada Sabtu 13 Mei 2017. Dari pemetaan itu, serangan paling banyak terjadi di Eropa. Sedangkan, Australia dan Afrika mencatatkan serangan paling sedikit.

Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika ( Kemenkominfo ) menyiapkan tim khusus yang akan membantu para korban ransomware. Semua pihak yang terkena serangan malware ini diminta untuk segera mengakses situs nomoreransom.org untuk meminta pertolongan pertama.

Ransomware adalah jenis virus yang memblokir seluruh data-data dalam satu sistem yang menggunakan windows. Sekali ia menyerang perangkat komputer, maka seluruh data dalam perangkat itu tidak bisa diakses. Para penjahat mengirimkan pesan untuk meminta uang tebusan agar blokir atas data itu dibuka. Mereka juga memberikan batas waktu, Jika melewati batas waktu, maka uang tebusan yang harus dibayar juga akan berlipat ganda.

Pembayaran dilakukan dengan bitcoin, bukan dengan transfer bank atau via PayPal. Para penjahat memberikan alamat pembayaran bitcoin dalam pesannya.

Tom Robinson, salah satu pendiri Elliptic, menemukan setidaknya 3 alamat bitcoin yang digunakan dalam serangan di seluruh dunia Jumat lalu. Elliptic adalah perusahaan yang mengidentifikasi aktifitas terlarang terkait bitcoin di Amerika dan Inggris.

“Ketiga alamat ini telah menerima 82 bitcoin sampai saat ini, yaitu sekitar US$ 14.000, dan semua bitcoin tersebut masih berada di dalam alamat tersebut,” kata Robinson.

Meskipun Robinson telah menemukan 3 alamat tersebut, tetapi dia tidak akan bisa melacak siapa pemiliknya. Bukan karena dia dan timnya kurang cerdas, tetapi karena transaksi di bitcoin memang anonim. Dia berbeda dengan transaksi bank yang mencatat semua identitas nasabah dan transaksi yang mereka lakukan.

Transaksi dengan bitcoin pun tidak bisa dibatalkan ataupun ditarik kembali. Jadi, sekali pembayaran dilakukan atau bitcoin dialihkan ke alamat berbeda, maka selesai. Tidak ada 1 pihak pun yang bisa mengembalikan bitcoin kepada pemiliknya. 2 hal ini menjadi kelebihan sekaligus kekurangan bitcoin. 2 hal ini juga memberi celah bagi para penjahat cyber untuk mencuri bitcoin pengguna lain atau menggunakan bitcoin sebagai mata uang pembayaran kejahatan. Ransomware adalah salah satunya.

Karena identitas pemilik tidak bisa dilacak, bitcoin menjadi idola para penjahat di dunia maya. Kejahatan yang berpotensi terjadi dengan penggunaan bitcoin bukan hanya pencurian bitcoin itu sendiri, tetapi kejahatan lain seperti penjualan narkoba, pendanaan teroris hingga pencucian uang.

Tahun 2014, Kepala Polisi dan Intelijen Inggris, Rob Wainwright pernah memberikan pidato dalam Konferensi Keamanan Tahunan Eropa. Pidatonya waktu itu berjudul Organised Crime: the Scale of the Challenge facing Europe. Dia mengatakan tidak terkejut mendengar kabar bahwa orang-orang yang telah berinvestasi di Bitcoin kehilangan ratusan juta pounsterling. Menurutnya, kejahatan jenis lainnya yang melibatkan mata uang online sangat mungkin terjadi.

Bitcoin, menurut Wainwright adalah mata uang yang paling tidak mempunyai aturan. Tidak ada badan publik seperti Bank Sentral yang bertanggung jawab atas perlindungan para penggunanya.

“Beberapa regulasi diperlukan untuk mengatur mata uang virtual. Jika tidak, maka pintu bagi pencucian uang dan terorisme akan terbuka lebar,” ujar Wainwright dalam pidatonya.

Kejahatan cyber terkait dengan bitcoin pernah membuat 1 perusahaan bitcoin exchange di Jepang yang bernama Mt.Gox bangkrut. Mt.Gox didirikan pada tahun 2010. Pada tahun 2013, dia menangani 70% dari seluruh transaksi bitcoin.

Pada tahun 2014, Mt.Gox menghentikan perdagangan, menutup perusahaan mereka dan layanan penukaran. Perusahaan itu juga mengajukan kepailitan. Kebangkrutan itu terjadi karena mereka kehilangan 850.000 bitcoin atau setara US$ 450 juta yang seharusnya milik pelanggan. Hampir seluruh bitcoin itu dicuri langsung dari Mt. Gox sedikit demi sedikit sejak 2011.

Tidak hanya itu, bitcoin juga digunakan dalam transaksi narkoba secara online di Silk Road. Situs ini menjual berbagai narkotika, mulai dari ganja hingga heroin. Silk Road tidak bisa ditemukan lewat mesin pencari seperti Google. Ia bisa dibuka melalui perangkat lunak yang bernama The Onion Router ( TOR ). Perangkat lunak ini memungkinkan pengguna berselancar secara anonim, tanpa bisa dilacak pihak ketiga.

“Internet telah berkembang sangat bermanfaat dalam banyak hal, namun ini adalah ruang yang sangat tidak diatur dan memberi para penjahat kesempatan besar untuk membangun ekonomi bawah tanah,” ujar Wainwright pada waktu itu.

Apa yang dikatakan oleh Wainwright benar adanya. 3 tahun setelah pidatonya, para penjabat cyber semakin merajalela memeras para korbannya. Pembayaran dengan bitcoin membuat mereka sulit sekali untuk dilacak.

 

Sumber: Tirto.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *