Korea Utara Disebutkan Berada di Balik Serangan Ransomware WannaCry

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

BOLAQIUQIU, Berita Akurat – Periset keamanan IT melaporkan, munculnya indikasi kemungkinan keterlibatan Korea Utara dalam serangan cyber global virus Ransomware WannaCry yang melumpuhkan sedikitnya 200 ribu sistem jaringan komputer di 150 negara, termasuk Indonesia, pekan lalu.

Peneliti Google, Neel Mehta, memasang kode komputer yang menunjukan kesamaan antara ransomware WannaCry dan upaya peretasan meluas yang selama ini melibatkan Pyongyang.

Sementara, sejumlah ahli lain dengan cepat menyimpulkan bahwa rezim Kim Jong Un mungkin berada di balik serangan virus ini.

Peneliti dari perusahaan keamanan Kaspersky mengatakan, kode komputer tersebut merupakan petunjuk yang penting untuk mengusut pelaku penyebaran malware jahat ini.

“Untuk saat ini, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk meneliti WannaCry versi yang lebih lama,” kata salah satu peneliti di Kapersky, Selasa 16 Mei 2017.

“Kami percaya, langkah ini bisa menjadi kunci untuk memecahkan sejumlah misteri seputar serangan ini. Satu hal yang pasti, penemuan Neel Mehta adalah petunjuk yang paling penting untuk mengetahui asal-usul WannaCry ini,” ucapnya menambahkan.

Menurut perusahaan yang berbasis di Rusia itu, kemiripan kode merujuk pada sekelompok hacker yang sering dikenal dengan kode nama Lazarus, yang diyakini bertanggung jawab atas peretasan perusahaan SOny Pictures pada tahun 2014 silam dan peretasan bank sentral Bangladesh dan sejumlah negara lainnya.

“Skala operasi Lazarus sangat mengejutkan.”

Kelompok Lazarus dilaporkan aktif sejak tahun 2011. Mereka kerap mengoperasikan pabrik malware yang memproduksi sampel-sampel baru melalui beberapa konveyor atau pengantar independen.

Senada dengan Kapersky, perusahaan keamanan berbasis di Israel, Intezer Labs, juga menganggap ada atribusi Korea Utara dalam serangan cyber ini.

“Kami menegaskan, atribusi Korea Utara untuk WannaCry tidak hanya karena fungsinya dari Lazarus, tetapi ada alasan lainnya,” ujar Direktur Eksekutif Intezer Labs, Itai Tevet, melalui akun Twitternya.

Ransomware WannaCry merupakan salah satu program jahat yang bisa mengunci data pada komputer yang terinfeksi dan jaringan terhubung lainnya hanya dalam hitungan menit.

Malware ini disebut sebagai salah satu yang paling canggih dan mulai terdeteksi menyebar secara global sejak Kamis, 11 Mei 2017. Sejauh ini, belum ada penangkal yang bisa mendekripsi file yang terjangkit.

Salah satu korban terparah adalah Inggris. Sedikitnya 45 fasilitas kesehatan nasional (NHS) terinfeksi, membuat sejumlah rumah sakit harus membatalkan operasi dan program perawatan pasien.

Sementara Di Indonesia, malware WannaCry ini mulai terdeteksi pada Jumat sore 12 Mei 2017. Berdasarkan laporan yang diterima oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sejauh ini program tersebut baru terdeteksi menyerang sistem komputer Rumah Sakit Harapan Kita dan Rumah Sakit Dharmais.

Kepala Badan Kepolisian Uni Eropa (Europol), Rob Wainwright, mengatakan serangan cyber global dan serentak ini merupakan yang pertama kali terjadi.

“Kami menjalankan sekitar 200 operasi global melawan kejahatan cyber setiap tahunnya. Tetapi, kami belum pernah melihat serangan malware yang seperti ini,” katanya.

Sumber: CNN Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *