Beras Plastik: Fakta atau Rumor?

oleh

Berita Akurat Terpercaya, BERITAAKURAT – Seorang perempuan terlihat mengepalkan nasi menjadi bulatan sebesar bola ping-pong. Sembari menunggu kepalan nasi usai, rekaman video berpindah, menyorot nama rumah makan yang tertera di kotak nasi. Si perempuan lalu melempar bola nasi, dan memantul. Mereka pun ribut, menduga nasi itu terbuat dari beras plastik.

 

Ayo Join di BOLAQIUQIU, Situs Betting Online Terpercaya di Indonesia yang memakai sistem terbaru sehingga memudahkan anda untuk bermain dan bertransaksi. Dengan 1 ID, anda bisa menikmati 7 permainan yang kami sediakan dengan minimal Deposit & Withdraw Rp 30.000 dan BOLAQIUQIU juga mempunyai Promo Bonus Rp 5.000 setiap melakukan Deposit minimal Rp 50.000 setiap hari! ( Berlaku 1x sehari dan tidak berlaku kelipatan )

 

“Kalau nasi biasa itu lengket, ternyata ini adalah nasi karet, nasi plastik. Teman-teman hati-hati ya,” begitu kalimat peringatan dari si perekam.

Rumor mengenai beras plastik juga pernah mengemuka pada tahun 2015. Pada saat itu, seorang warga Bekasi menduga bahwa beras yang dibelinya adalah beras plastik. Menurutnya, ketika dimasak, bulir beras tidak menyatu dengan air. Isu tersebut semakin kencang berhembus lantaran salah satu laboratorium terbesar di Indonesia, PT Sucofindo membenarkan adanya kandungan plastik dalam beras.

Mereka bahkan lebih dulu mempublikasikan hasil uji laboratorium ketimbang BPOM. Pengujian beras tersebut di laboratorium Sucofindo positif mengandung senyawa pembuat plastik berupa Benzyl Butyl Phtalate (BBP), Diethyl Hexyl Phthalate (DEHP), dan Dimethyl Phthalateshalate (DMP). Bahan-bahan tersebut biasa digunakan untuk membuat pipa paralon, kantong medis, selang, atau campuran pembuat plastik lainnya.

Senyawa-senyawa itu juga dikenal sebagai senyawa plasticizer atau peliat. Dia berfungsi meningkatkan fleksibilitas, elastisitas, dan ketahanan dari suatu bahan. Senyawa itu berbahaya jika menjadi kontaminan dalam makanan. Dia dapat mengakibatkan penyakit kanker dan leukimia, juga penyakit disruptor endokrin, yaitu penurunan kualitas reproduksi, yang dapat memicu ketidaknormalam sistem reproduksi, khususnya laki-laki. Resiko ini menjadi 8x lebih besar ketika menimpa anak-anak dibandingkan orang dewasa.

Saking berbahayanya, Food and Drug Administration (FDA) merekomendasikan ibu hamil tidak menggunakan alat medis yang mengandung DEHP. Sebab, dia dapat membuat alat kelamin pada janin mengecil. Produksi sel sperma juga akan menurun jumlahnya.

Di Taiwan, kasus adanya DEHP pada makanan juga pernah menjadi skandal besar. Pada tahun 2011, pemerintah Taiwan sampai melakukan penarikan besar-besaran atas produk yang terkontaminasi senyawa ini. Negara ini kemudian melarang ekspor produk tercemar, diantaranya minuman kebugaran, jus buah-buahan, teh, bonbon buah, bubuk makanan, dan tablet suplemen kesehatan.

Tidak Ada Beras Plastik

Meskipun isu tentang beras plastik selalu muncul dan tenggelam, masyarakat tidak perlu resah, sebab temuan BPOM berseberangan dengan hasil lab PT. Sucofindo. BPOM tidak menemukan adanya kontaminasi plastik dalam beras yang diuji coba. PT. Sucofindo pun tidak pernah mengklarifikasi temuan mereka.

Padahal, BPOM juga menguji sampel beras yang sama dari Penyidik Polri pada Polsek Bantargebang. Dalam pengujian, lembaga negara ini menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) untuk mengidentifikasi gugus fungsi bahan dan jenis polimer yang mungkin terkandung dalam beras.

Selain itu, dilakukan pengujian titik leleh beras menggunakan alat Differential Scanning Calorymeter (DSC), tetapi kesemuanya menunjukkan hasil negatif. Untuk memperkuat hasil pengujian itu, dilakukan uji kesetaraan substansi dengan beras standar, meliputi analisis proksimat dan logam berat. Hasilnya tetap tidak ditemukan adanya polimer dalam beras.

Tidak berhenti di tingkat domestik, BPOM kemudian menghubungi The Internasional Food Safety Authorities Network (INFOSAN), lembaga otoritas pangan di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Maksudnya untuk menanyakan kasus beras plastik yang mungkin beredar di negara lain. Namun, INFOSAN memastikan tidak ada kasus beras plastik di negara lain.

Lalu, jika bukan terbuat dari plastik, mengapa bola nasi yang dilempar perempuan dalam video bisa memantul?

Jawabannya adalah karena beras tersebut mengandung amilopektin tinggi. Beras mengandung pati, karbohidrat polimer glukosa yang terdiri 2 struktur, yaitu amilosa dan amilopektin. Amilopektin merupakan polimer glukosa yang memiliki banyak cabang, sehingga struktur lebih kompak dan lebih kuat (lekat). Semakin tinggi kadar amilopektin, semakin rendah amilosanya. Begitu juga sebaliknya.

“Jadi, semakin rendah kadar amilosanya. semakin lekat beras tersebut,” kata ahli pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Sentosa.

Nasi lekat berkadar amilosa rendah akan lebih mudah digumpalkan. Harganya pun jauh lebih mahal dibandingkan dengan beras umumnya. Contohmnya, beras ketan yang memiliki kadar amilosa hanya 1%-2%. Beras yang kadar amilosanya lebih besar dari 2% disebut beras bukan ketan atau beras biasa.

Berdasarkan kandungan amilosanya, beras (bukan ketan) digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu beras beramilosa tinggi (22%-33%), beras beramilosa sedang (20%-25%). beras beramilosa rendah (9%-20%) dan beras dengan kadar amilosa sangat rendah (2%-9%).

Beras dengan amilosa rendah menghasilkan nasi yang tidak kering. Teksturnya pulen, tidak keras setelah dingin, rasanya enak dan nasinya mengkilat. Semakin mengkilat nasi, semakin enak pula rasa nasi tersebut.

Beras jenis indica yang berasal dari daerah tropis seperti Indonesia, India, dan Filipina memiliki kandungan amilosa cenderung berada di tingkat sedang sampai tinggi. Bentuk fisiknya berbulir panjang dan tidak lengket pada saat dimasak. Beras japonica, yang banyak tumbuh di Jepang, memiliki kadar amilosa rendah. Beras ini bertekstur agak lengket dengan bentuk bulir pendek dan bulat.

“Jadi yang ada beras beramilosa rendah, bukan beras plastik. Harga jual biji plastik juga lebih mahal dari beras,” terang Andreas.

Dari isu dugaan beras plastik di tahun 2015 dan yang baru-baru ini beredar, kita patut belajar untuk mawas sebelum mengunggah dan membagikan konten yang kita simak di sosial media. Alih-alih memberi pencerahan, bisa-bisa kita malah memperkeruh suasana dan mengada-adakan kenyataan.

 

Sumber: Tirto

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *