Inilah 5 Sikap Steve Jobs Yang Tidak Boleh Kamu Tiru

Berita Akurat Terpercaya, Berita Akurat – Almarhum Steven Paul Jobs alias Steve Jobs adalah salah satu ikon penting di dunia teknologi. Steve Jobs dikenal sebagai seorang entrepreneur yang visioner.

 

 

Semasa hidupnya, Steve Jobs telah menciptakan berbagai terobosan penting serta mendirikan salah satu perusahaan raksasa dunia, yaitu Apple. Kedekatannya pada dunia desain serta spiritual mengantar dia tidak hanya pada perancangan alat muktahir, tetapi juga user experience terbaik.

Steve Jobs memberikan kepada kita banyak teladan, namun dia tetap seorang manusia biasa. Berusaha menjiplak kepribadiannya 100% bukanlah ide bagus, sebab seorang Steve Jobs pun mempunyai berbagai kekurangan yang tercatat dalam buku biografinya. Inilah beberapa kisah Steve Jobs yang perlu kita jadikan pelajaran supaya tidak terjadi dalam kehidupan kita.

1. Menolak Aturan

Tumbuh di bawah asuhan sang ayah, Paul Jobs, yang memiliki hobi di bidang mekanika, Steve sudah menunjukkan minat pada sains dari kecil. Steve sudah mahir membaca sebelum masuk sekolah, juga lebih akrab dengan para insinyur di lingkungan sekitar rumah daripada dengan anak-anak seusianya. Ia sangat pintar, bahkan mungkin terlalu pintar.

Mungkin karena ia terlalu pintar itulah, Steve menjadi tidak betah di sekolah. Dia menjadi anak pembangkang, tidak mau diatur, bahkan suka mengerjai para guru dan murid lain. Begitu bosannya ia dengan sekolah sampai-sampai ia berkali-kali diskors karena terlalu bandel.

Sifat bandel Steve Jobs baru berubah ketika ia bertemu guru wanita yang bernama Imogene Hill. Guru itu berhasil membujuknya untuk belajar melalui sogokan.

“Saya sangat ingin kamu menyelesaikan buku soal-soal ini. Saya akan beri kamu 5 dollar bila menyelesaikannya,” kata sang guru. Imbalan itu membuat Steve Jobs sangat rajin belajar hingga diperbolehkan untuk loncat 1 tingkat ketika naik kelas.

2. Tidak Komitmen Pada Hubungan

Di masa muda, Steve Jobs dikenal sebagai seorang penyendiri. Dia sangat pintar, tetapi tidak bertingkah seperti nerd. Dia sangat bandel, tetapi tidak bergumul dengan para hippie. Ia berteman dengan orang dari spektrum minat yang berbeda-beda, dari elektronika, literatur klasik, hingga seni musik. Tetapi Steve Jobs tidak benar-benar menjadi anggota grup pertemanan tertentu. Ia adalah individu yang tidak terikat.

Sayangnya, sifat individualis itu juga terbawa ke dalam hubungan asmaranya. Sebelum Steve Jobs menikahi Laurene Powell, ia sempat berpacaran dengan gadis yang bernama Chrisann Brennan. Setelah mendirikan Apple, Chrisann bekerja di perusahaan itu sebagai staff bagian pengiriman barang. Tetapi, kesuksesan Apple membuat ikatan mereka renggang.

Steve Jobs dan Lisa Brennan
Puncak masalah terjadi ketika Chrisann mengandung. Steve tidak mau mengakui anaknya, padahal ia sendiri yang memberi nama “Lisa”, sehingga mereka berpisah. Setelah melalui tes DNA, akhirnya terbukti bahwa ia memang ayah dari Lisa. Steve pun mau memberi nafkah dan lambat laun berdamai dengan Chrisann. Ia bahkan mengubah nama resmi anaknya dari Lisa Brennan menjadi Lisa Brennan-Jobs.

3. Menipu Teman Sendiri

Sebelum mendirikan Apple, Steve Jobs sempat bekerja sebagai teknisi di Atari. Tetapi, pekerjaan di Atari itu dia dapatkan dengan cara yang sedikit curang. Pada saat itu, Steve Jobs bersahabat dengan Steve Wozniah yang merupakan insinyur jenius. Wozniak ahli dalam elektronika televisi, dan ia sempat membuat sendiri sebuah mesin permainan Pong.

Ketika melamar pekerjaan di Atari, Steve Jobs membawa mesin Pong milik Wozniak. Pihak Atari mengira bahwa mesin itu adalah buatan Steve Jobs, sehingga mereka terkesan dan mau merekrutnya.

Steve Jobs juga pernah meminta Wozniak untuk membantu mengerjakan game Atari yang berjudul Breakout. Dia berkata bahwa mereka menerima honor US$ 700 atau sekitar Rp 9,3 juta dan membaginya untuk berdua. Steve Jobs membayar Wozniak sebesar US$ 350 atau sekitar Rp 4,6 juta, tetapi pada kenyataannya, ia menerima US$ 5000 atau sekitar Rp 67 juta dari Atari. Wozniak tidak mempermasalahkan soal uangnya, tetapi ia kecewa karena Steve Jobs tidak jujur.

4. Kurang Menghargai Pegawai

Setelah mendirikan Apple bersama Steve Wozniak dan Ronald Wayne, Steve Jobs merekrut beberapa orang sebagai pegawai pertama. Salah satunya adalah Daniel Kottke, teman kuliah Steve Jobs yang menggemari komputer. Daniel berperan dalam proses pembuatan komputer Apple, Apple II, Apple III, serta Macintosh generasi awal.

Steve Jobs (kiri) dan Steve Wozniak (kanan) semasa mudanya

Daniel bertahan di Apple selama lebih dari 8 tahun , tetapi meskipun dia berperan pentung di awal pendirian perusahaan, Steve Jobs tidak pernah menawarkan saham padanya, Wozniak bahkan rela memberikan saham miliknya kepada Daniel, tetapi Steve Jobs tetap kukuh pada pendiriannya.

Meskipun tidak menawarkan saham, sebenarnya Steve Jobs sempat menawarkan penghargaan lain kepada Daniel. Dalam pengakuannya kepada Chrisann Brennan, Daniel berkata bahwa Steve Jobs meminta dirinya untuk menempati posisi marketing, tetapi Daniel menolak. Ia lebih tertarik bekerja dengan teknologi daripada pemasaran.

5. Arogan dan Mudah Emosi

Stebe Jobs mempunyai idealisme tinggi dan visi-visi hebat. Sayangnya, terkadang idealisme itu muncul terlalu berlebihan. Apabila ada orang yang tidak sepaham dengannya, ia tidak segan-segan untuk mendebat, membentak, bahkan mengeluarkan makian kasar. Padahal, belum tentu pandangan Steve Jobs itu benar.

Sudah banyak orang yang menerima kemarahan Steve Jobs, mulai dari desainer iMac, jurnalis New York Times, sampai resepsionis hotel. Pada saat jabatan CEO Apple dipegang oleh John Sculley, perbedaan pandangan mereka berdua pun semakin menimbulkan ketegangan.

Pada akhirnya, divisi yang dipimpin John Sculley jauh lebih sukses, bahkan berkontribusi kepada 85% pendapatan Apple di tahun 1985. Steve Jobs sempat ingin memecat Sculley, tetapi akhirnya perdebatan ini berujung pada Steve Jobs yang meninggalkan Apple. Steve Jobs kemudian mendirikan perusahaan NeXT Computer yang dibeli Apple pada tahun 1997.

Kata peribahasa, “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Tetapi, kita tidak selalu harus melakukan kesalahan. Kita bisa melihat pengalaman orang lain, mencontohnya bila positif atau menghindarnya bila pengalaman itu negatif. Sebagai sosok terkemuka, kehidupan Steve Jobs sudah banyak terdokumentasi, dan kita bisa belajar dari kisah-kisah di atas.

 

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *