Inilah 5 Pengakuan Andi Narogong Yang Kuatkan Keterlibatan Setya Novanto di Kasus E-KTP

oleh -240 views

Berita Akurat Terpercaya, Berita Akurat – Terdakwa kasus korupsi proyek pengadaan E-KTP Andi Agustinus alias Andi Narogong menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Tapi, ada pemandangan berbeda dalam jalannya persidangan.

 

 

Andi yang selama ini bungkam akhirnya mau angkat bicara tentang kasus yang telah menjerat namanya. Tidak hanya jawaban konfirmasi yang isinya melulu soal ya, tidak, atau tidak tahu. Andi justru blak-blakan soal siapa yang berperan di dalam proyek E-KTP.

Nama sentral yang terus menghiasi pernyataan Andi dalam agenda sidang pemeriksaannya sebagai terdakwa tidak lain dan tidak bukan adalah Ketua DPR yang juga kini telah mengenakan rompi oranye khas tahanan KPK, Setya Novanto.

Andi Narogong menceritakan betapa masifnya peran Setya Novanto yang selama ini coba terus ditutupi. Secara tidak langsung, Andi telah membantah semua pernyataan Setya Novanto yang mengatakan sama sekali tidak bertemu seseorang guna membahas kelanjutan proyek yang ditaksir telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 2,3 triliun tersebut.

Berikut ini telah dirangkum 5 pernyataan Andi yang semakin menguatkan lagi keyakinan lembaga antirasuah bahwa Setya Novanto terlibat di kasus korupsi E-KTP.

 

1. Kedekatan Setya Novanto dengan mantan Direktur PT Gunung Agung, Made Oka Masagung

Dalam kesaksiannya ketika dihadirkan dalam persidangan kasus E-KTP sebelumnya untuk Andi, Setya Novanto jelas membantah tentang kedekatannya dengan sosok bernama Made Oka Masagung. Setya Novanto meyakinkan kepada majelis hakim yang diketuai oleh Jhon Halasan Butarbutar, bahwa kedekatannya dengan Oka Masagung hanya pada saat Setya Novanto masih tergabung dalam Kosgoro.

“Terkait Oka Masagung yang bapak kenal di kosgoro, sejak jadi ketua fraksi apa pernah kontak dia?” Tanya Jaksa Basir.

“Enggak pernah pak, ada orang ketemu dengan saya diutus oleh Pak Oka yang katanya mau join di usaha pertambangan dengan saya tapi enggak jadi pak,” ucap Setya Novanto kala itu.

“Kenal Made Oka dimana dan kapan?” Tanya Jaksa Basir.

“Sekitar tahun 80an pak, kedekatan semata karena mantan kosgoro saja pak,” jawab Setya Novanto saat bersaksi untuk Andi, Jumat 3 November 2017.

Lain Setya Novanto lain pula Andi. Andi justru mengatakan hal sebaliknya yang cenderung kontradiksi dengan pernyataan Setya Novanto sebelumnya. Dalam pemeriksaannya, secara gamblang Andi menjelaskan bahwa Setya Novanto lah yang mengenalkan Made Oka Masagung kepadanya dan kepada sejumlah perwakilan konsorsium peserta lelang tender E-KTP.

Dalam pertemuan yang bertempat di kediaman Setya Novanto tersebut, Setya Novanto mengenalkan Oka Masagung sebagai pihak yang nantinya akan membantu memberikan modal bagi konsorsium dalam pengerjaan proyek E-KTP.

“Lalu sekitar November 2011, Pak Tannos ngundang saya, Anang, dan Marliem di rumah Pak Setya Novanto untuk mengatakan bahwa anggota konsorsium tidak dapat DP. Akhirnya Pak Setya Novanto sampaikan, yasudah nanti saya kenalkan teman saya namanya Oka Masagung karena dia punya link bagus ke perbankan,” kata Andi.

“Pertama Masagung ini jaringannya luas ke DPR lalu fee ke DPR pun kata Pak Novanto biar pak Oka Masagung yang urus,” ucap Andi.

Masih di bulan November di tahun yang sama, Andi beserta Paulus Tannos kembali memenuhi panggilan Setya Novanto untuk hadir ke kediamannya. Kali ini, dikenalkannya Made Oka Masagung menjadi alasan Setya Novanto memanggil keduanya.

“Masih November juga, pagi-pagi saya dan Pak Tannos diundang ke rumah Pak Nov, di sana Pak Oka diperkenalkan ke saya dan Pak Tannos,” ucapnya.

Jadi pernyataan Setya Novanto yang mengatakan bahwa ia tidak begitu dekat dengan sosok Oka Masagung serta tidak adanya ketidaktahuannya tentang keterlibatan Oka Masagung, jelas terbantahkan melalui keterangan Andi.

 

2. Setya Novanto memiliki salah satu space kantor di Gedung Equity Tower

Equity Tower merupakan salah satu gedung perkantoran yang berada di bilangan Jakarta Pusat yang ditengarai oleh pihak KPK, terdapat satu kantor atau ruang kerja milik Ketua Umum Partai Golkar itu. Tempat itu dipercaya oleh pihak KPK, sebagai satu dari banyak tempat yang digunakan Setya Novanto untuk melakukan pembahasan E-KTP.

Dalam persidangan E-KTP di mana Setya Novanto pernah dihadirkan juga sebagai saksi, dugaan ia memiliki kantor di Equity Tower dibantahnya. Dugaan awal jaksa yang mengarah pada anak laki-laki Setya Novanto dari pernikahan pertamanya, Reza Herwindo, dengan cepat ditangkis Setya Novanto. Meskipun diakuinya Reza menyewa kantor di salah satu lantai di Equity, namun ia tegas katakan tidak pernah ada pertemuan apapun di Equity Tower tersebut.

“Kalau itu ada, setelah pulang dari luar negeri, dia (Reza) sewa kantor di sana,” kata Setya Novanto. Tapi Setya Novanto mengklaim tidak pernah bertemu siapa-siapa di Equity, terutama untuk membahas proyek E-KTP.

Namun pernyataan Andi berkata lain, Andi menuturkan Equity tower adalah satu dari banyak tempat dia bertemu dengan Setya Novanto. Dalam keterangannya Andi menyebut bahwa Setya Novanto dengan Ketua Komisi II DPR saat itu, Chairuman Harahap meminta pada Andi dan Paulus Tannos selaku direktur PT Sandipala Arthapura untuk datang ke Equity Tower guna menagih jatah fee sebesar 5% untuk anggota DPR dalam proyek e-KTP.

“Lalu akhir 2011, Pak Chairuman menagih 5% fee untuk DPR ke Pak Irman, atas penagihan itu Pak Tannos dan saya diundang ke Equity Tower kantornya Pak Novanto, ada Chairuman, ada Pak Tannos dan Pak Novanto juga, mereka menagih realisasi 5% dari Depdagri untuk DPR,” ujar Andi.

 

3. Pertemuan Setya Novanto dengan sejumlah pihak terkait pembahasan proyek E-KTP

Baik saat dihadirkan menjadi saksi dalam persidangan dengan terdakwa Irman dan Sugiharto hingga terdakwa Andi Narogong, Setya Novanto terus-menerus berkelit tentang adanya sejumlah pertemuan guna pembahasan E-KTP. Berbagai alasan pernah diutarakan Setya Novanto, mulai dari dia tidak pernah hadir dalam pertemuan yang dituduhkan kepadanya hingga lupa pertemuan mana yang dimaksudkan oleh hakim dan penuntut umum.

Pertemuan di hotel Gran Melia misalnya, Setya Novanto tegas katakan tidak ada pertemuan semacam itu yang pernah dihadirinya. Bahkan dia berdalih tidak mungkin ia mendatangi pertemuan sepagi itu.

“Ada momen lain, pertemuan di Gran Melia, dikatakan di sana, anda bertemu beberapa pihak, selain Diah, ada juga Irman, Sugiharto dan Andi, apa benar?” Tanya Hakim John di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat 3 November 2017.

“Tidak benar yang mulia. Seperti BAP dan juga seperti pada sidang yang lalu, tidak benar,” jawab Setya Novanto.

“Iya saya paham, hanya begini saudara Setya Novanto, karena sumber yang menceritakan pertemuan itu lebih dari satu kali, coba bagaimana kira-kira anda bisa meyakinkan semua pihak di persidangan ini bahwa anda betul-betul tidak ikut di Sana?” tanya Hakim John.

“Pada saat itu juga, kalau saya belum pernah datang jam enam. Karena jam enam itu juga belum buka. Jadi, enggak benar bahwa saya melakukan pertemuan di sana,” ucap Setya Novanto.

Melalui keterangannya, Andi kembali meyakinkan bahwa Setya Novanto terlibat, bahkan khusus pertemuan tersebut Andi katakan Setya Novanto lah yang menentukan lokasi pertemuannya.

“Pertemuan berlangsung jam 6 pagi selama 10 menit bertemu bersama Pak Setya Novanto, Pak Giarto, dengan bu Sekjen juga,” ujar Andi.

“Siapa yang tentukan tempat?” Tanya hakim Jhon.

“Pak Novanto yang tentukan karena dia ada acara setelahnya, tapi saya yang bayar,” ucap Andi dalam kesaksiannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis 30 November 2017.

Melalui pertemuan itu pula, pejabat Kemendagri yang diwakili Sekjen; Diah Anggraeni serta Dirjen Dukcapil Kemendagri; Irman meyakinkan agar Setya Novanto dapat meletakkan dukungan demi berjalannya proyek E-KTP tersebut.

“Lalu apa yang dibicarakan?” tanya hakim Jhon.

“Bu sekjen dan Pak Irman bilang ada proyek E-KTP tolong didukung, lalu Pak Novanto bilang kami selaku partai pendukung pemerintah pasti akan kami dukung,” ucap Andi.

Sudah semua? tentu belum. Setya Novanto kembali menepis dugaan hakim yang menyebutkan bahwa ia lebih dari satu kali pernah mengajak Andi berkunjung ke DPR pada setiap hari fraksi yang jatuh di hari Jumat.

“Ada informasi yang mengatakan bahwa anda lebih dari dua kali ketemu Andi, Andi juga pernah datang ke DPR bahkan tiap hari jumat?” tanya Hakim Jhon.

“Tidak benar yang mulia,” ucap Novanto dalam persidangan, Jumat 3 November 2017.

Namun, Andi kembali membuat posisi Setya Novanto terdesak, bahkan dengan terang-terangan Andi katakan bahwa Setya Novanto lah yang mengundangnya untuk hadir ke DPR. Tidak hanya hadir, di DPR Andi turut dikenalkan Setya Novanto pada sejumlah pihak yang dipercaya Setya Novanto akan memuluskan proyek E-KTP nantinya. Orang tersebut ialah Chairuman Harahap selaku ketua komisi II saat itu dan wakil ketua badan anggaran DPR Mirwan Amir.

“Tahun 2010, hari jumat saya datang ke DPR, di hari fraksi, Pak Setya Novanto kenalkan dengan Pak Chairuman Harahap sebagai salah satu pengusaha yang akan ikut E-KTP, Ya saya merasa semakin banyak didukung orang semakin bagus,” ujarnya.

“Lalu setelahnya saya dikenalkan dengan Pak Mirwan Amir selaku wakil ketua banggar,” imbuhnya.

 

4. Pemberian jam tangan merk Richard Mille dari Andi kepada Setya Novanto

Kali ini, bukan Setya Novanto yang berkicau perihal kepemilikan jam tangan dengan merk Richard Mille. Penasihat hukum Setya Novanto, Fredrich Yunadi yang tegas katakan bahwa jam tangan milik kliennya sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan proyek E-KTP. Menurut Fredrich, Setya Novanto sudah lama memiliki jam tangan Richard Mille.

“Bukan dari Johannes Marliem, sama sekali bukan. Yang beliau punya itu tahun 2008 namanya RM 01101, itu barangnya jadul zaman kuno. Malah kalah sama punya saya RM 01103. Saya punya jauh lebih bagus, modelnya aja beda. Beliau punya itu campur titanium, saya itu kan full of gold. Saya tahun 2017 beliau tahun 2008,” kata Fredrich, Jumat 6 Oktober 2017.

Fredrich menegaskan, Setya Novanto sama sekali tidak mengenal Johannes Marliem, orang yang diduga telah memberikannya jam tangan sebagai bentuk terima kasih kepada Setya Novanto.

“Beliau sama Marliem itu nggak kenal. Mukanya Marliem aja beliau enggak tahu, ketemu aja enggak pernah kok bisa dikasih, janganlah bikin yang enggak-enggak,” jelasnya.

Namun, Andi Narogong kembali memiliki cerita menurut versinya sendiri, dia beranggapan bahwa dia memang benar pernah menghadiahi Setya Novanto sebuah jam tangan yang kebetulan saat itu bertepatan dengan hari lahir Setya Novanto pada 12 November.

“Pernah, tapi bukan dalam rangka menggolkan, ucapan terima kasih,” kata Andi.

“Karena Setya Novanto bantuin anggaran?” tanya jaksa Abdul Basir.

“Betul,” jawab dia.

“Memberikan apa?” tanya jaksa Basir kembali.

“Jam tangan Richard Mille. Waktu itu saya membeli bersama Pak Johannes Marliem,” kata Andi.

Menurut Andi, pemberian jam tangan itu merupakan ide dari Johannes Marliem pada akhir tahun 2012. Marliem yang diketahui menjabat sebagai Direktur Biomorf Lone LLC itu pun meminta Andi untuk turut patungan membeli jam tangan tersebut. Andi lantas memberikan uang sekitar Rp 650 juta kepada Marliem.

“Saya berikan kurang lebih Rp 650 juta, separuh harga jam. Akhirnya, pak Marliem beli Richard Mille di Amerika,” kata dia.

“Berapa harganya?” tanya jaksa Abdul Basir.

“Rp 1,3 miliar,” ujar dia.

Menurut Andi, jam tangan itu pun langsung diserahkan kepada Setya Novanto.

“Seingat saya, antara saya sendiri atau berdua dengan Johannes Marliem di rumah Pak Setya Novanto,” ujar dia.

 

5. Adanya Fee sebesar 5% dan dana sebesar US$ 7 juta untuk anggota DPR

Pernyataan pamungkas Andi yang satu ini seolah membantah pernyataan seluruh saksi dari anggota DPR baik yang pernah diperiksa KPK di tingkat penyidikan maupun pernah dihadirkan dalam persidangan terhormat. Andi dengan gamblang katakan dia dan pihak konsorsium telah berjanji untuk memberikan commitment fee terkait E-KTP sebanyak 10% dari nilai proyek E-KTP Rp 5,9 triliun.

10% itu sendiri, Andi menambahkan, masih akan dibagi lagi bagiannya. Pembagian tersebut meliputi 5% yang dialokasikan untuk Irman dan pejabat Kemendagri lainnya serta 5% sisanya untuk anggota DPR.

Hakim pun lantas sempat menanyakan soal asal fee 5% untuk DPR itu. Menurut Andi, fee 5% untuk DPR memang sudah disiapkan di perusahaan milik Anang Sugiana Sudihardjo, PT Quadra Solution.

“Jadi sebelum menang, kami anggota konsorsium sudah hitung 10% itu untuk keuntungan. 5% yang dikerjakan PNRI dan subcon untuk pak Irman, 5% untuk DPR ditaruh di Quadra Solution. Jadi, keseluruhan Rp 5,9 triliun dipotong PPN, PPh, bimbingan teknis, jadi hanya ada Rp 5 triliun, jadi Rp 250 miliar untuk DPR, Rp 250 miliar untuk Depdagri. Saya pernah berikan rincian itu ke pak Irman dan Depdagri,” papar Andi.

Tidak berhenti sampai di situ, Andi kembali menceritakan bahwa ia juga memberikan uang dengan total US$ 7 juta ke DPR terkait proyek E-KTP. Andi Narogong menyebut uang itu diberikan setelah ditagih Setya Novanto dan Chairuman Harahap sebelumnya.

“Ada berapa hal yang harus diklarifikasi keterangan Irman dan Sugiharto. Bahwa ada uang diselesaikan saudara Anang ke Novanto katanya. Tapi anda tidak mengetahui?” tanya hakim Anwar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kamis 30 November 2017.

“Maksud yang dieksekusi US$ 7 juta itu Yang Mulia dilaporkan Pak Irman dan Sugiharto untuk DPR. Memang awal ditanyakan Pak Novanto dan Chairuman,” kata Andi.

 

Sumber: kumparan

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *