7 Tempat Wisata Ini Tidak Ramah Turis, Padahal Tempatnya Indah Sekali

oleh

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Indonesia kini tengah membenahi sektor pariwisata agar kunjungan turis mancanegara terus meningkat. Dengan begitu, keindahan alam Indonesia akan terdengar luas di kancah internasional.

 

 

Mulai dari perbaikan infrastruktur, pengelolaan destinasi wisata baru, kemudahan akses bagi wisatawan, hingga promosi dan kampanye pun dilakukan. Berbeda dari negara kita, 8 kota di dunia ini justru membatasi akses turis luar negeri untuk datang ke sana. Kira-kira kenapa?

 

1. Pulau Koh Khai, Thailand

Thailand adalah salah satu negara yang ramah wisatawan. Tidak heran kalau banyak backpacker yang memilih berlibur ke sana, karena akses untuk turis sangat diperhatikan. Namun akibat isu kerusakan lingkungan, beberapa destinasi favorit dibatasi aksesnya.

Di antaranya seperti Pulau Koh Khai Nok, Koh Khai Nui, dan Koh Khai Nai, Phuket, Thailand. Sejak Mei 2016, kunjungan turis ke tempat ini mulai dibatasi, bahkan pernah dilarang keras. Keputusan itu diambil Departemen Kelautan dan Sumber Daya Laut (DMCR), karena 80% terumbu karang yang ada di sana terdegradasi.

 

2. Bhutan

Bhutan sebagai tempat pariwisata mulai diperkenalkan pada 1974. Namun sejak awal dibuka, peraturan kunjungan yang sangat ketat langsung diterapkan. Salah satunya, jumlah kunjungan terbatas dan harga tinggi yang harus dibayarkan.

Kebanyakan pengunjung harus membayar biaya visa harian sebesar 190 poundsterling atau sekitar Rp 3,5 juta. Kebijakan khusus ini diterapkan untuk menjaga dan melestarikan keunikan peninggalan budayanya dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

 

3. Barcelona, Spanyol

Pada tahun 2015, Ada Colau menjabat sebagai wali kota wanita pertama di Barcelona. Tanpa basa-basi, ia mengemukakan pendapatnya soal kondisi kotanya yang makin buruk akibat kunjungan wisatawan.

Sejak saat itu, ia membekukan seluruh lisensi hotel baru maupun penyewaan apartemen khusus liburan. Ia juga memberi denda sebesar Rp 435 juta pada AirBnb, salah satu online marketplace penyewaan kamar.

Coula bahkan mengusulkan untuk menarik pajak turis dan membatasi jumlah kunjungan.

“Kami tidak ingin kota ini berubah jadi toko souvenir murah,” kata Coula.

 

4. Amsterdam, Belanda

Kepala pemasaran Amsterdam mengatakan kalau jumlah turis di kota ini sudah overload dan menyebabkan banyak masalah. Kepala Eksektif Pemasaran, Frans van der Avert, menjelaskan kalau kondisi kota sedang sangat buruk. Sebab, banyak pengunjung melakukan perusakan terhadap situs dan bangunan bersejarah yang ada di sana.

“Kami ingin orang-orang (wisatawan) yang datang ke sini karena tertarik dengan keindahan arsitekturnya, bukan orang-orang yang datang hanya untuk merayakan pesta berlatar kota tua,” ujarnya.

Ia melanjutkan, “Kami tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk promosi Amsterdam, karena kami sudah tidak lagi ingin turis datang ke sini. Kami sering melihat banyak orang yang tidak menghormati karakter maupun adat di kota kami.”

 

5. Beberapa pemandian air panas di Jepang

Banyak orang yang ingin berlibur ke Jepang untuk merasakan sensasi mandi di onsen (pemandian air panas) alami dan pemandian masyarakat sento. Para pengunjung bakal langsung diizinkan masuk ke pemandian tanpa syarat khusus, kecuali mereka yang memiliki tato.

Bagi sebagian masyarakat, tato punya stigma negatif karena identik dengan mafia Yakuza. Sebuah survei yang dirilis pada tahun 2015 oleh Japan Tourism Agency (JTA) menemukan lebih dari setengah onsen di Jepang melarang tamu bertato, atau meminta mereka untuk menutupi tato selama di lokasi.

 

6. Santorini, Yunani

Salah satu pelabuhan tersibuk di Yunani mengumumkan bahwa jumlah pengunjung kapal pesiar menuju Santorini harus dibatasi pada tahun 2016.

Hal ini dilakukan karena ada lebih dari 10 ribu wisatawan datang secara bersamaan tiap harinya ke Pulau Santorini. Jumlah kunjungan sekarang dibatasi menjadi 8.000 orang saja. Peraturan tersebut sudah dijalankan sejak musim panas tahun ini.

 

7. Cinque Terre, Italia

Kawasan pesisir yang indah ini masuk dalam kategori situs warisan dunia UNESCO. Karena statusnya tersebut, Cinque Terre jadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi turis asing.

Karena jumlah pengunjung yang terus bertambah dan mebludak, Cinque Terre mengumumkan rencana pemberlakuan sistem tiket pada Februari 2016. Jadi begitu pengunjung mencapai 1,5 juta, maka akses masuk akan ditutup.

Jumlah ini dirasa ideal, karena pada musim sebelumnya jumlah wisatawan ke tempat ini mencapai 2,5 juta orang. Padahal, kawasan Cinque Terre dipenuhi dengan jalanan sempit dan juga tebing.

 

Sumber: IDN Times

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *