Bukan Rp 600 Ribu, Guru Multitalenta Yang Tewas Dianiaya Oleh Muridnya Ternyata Hanya Digaji Rp 400 Ribu

oleh -263 views

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Nasib ‘Si Umar Bakri’ asal Torjan, Sampang, Madura, Jawa Timur ini benar-benar menguras air mata. Guru yang bernama Ahmad Budi Cahyono ini memang berbudi.

 

 

Dengan gaji Rp 400,000 sebulan, sebelumnya dilaporkan digaji Rp 600,000 per bulan, ia bekerja maksimak sampai akhirnya nyawanya terenggut oleh siswanya sendiri.

Ahmad Budi Cahyono, guru yang tewas setelah dianiaya muridnya berstatus sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) ekstrakulikuler yang mengajar mata kuliah kesenian di SMAN 1 Kecamatan Torjun, Sampang, Jawa Timur.

“Karena hanya GTT yang mengajar ekstrakulikuler, gaji pokok yang diterima hanya Rp 400,000 per bulan. Mungkin dia juga mengajar di sekolah lain,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Saiful Rahman, dikonfirmasi, Jumat 2 Februari 2018.

Informasi yang didapatnya dari kepala SMAN I Torjun, mendiang Ahmad Budi Cahyono dikenal sebagai guru yang multitalenta.

“Semuanya dia bisa, khususnya di bidang kesenian,” ujarnya.

Sementara HL, siswa kelas XII tersangka penganiayaan terhadap guru, dikenal sebagai siswa yang nakal.

“Informasi dari sekolah, HL banyak memiliki catatan negatif di guru BK,” terangnya.

Ahmad Budi Cahyono meninggal pada Kamis 1 Februari 2018 malam setelah dianiaya oleh HL di sekolah pada sore harinya.

Setelah dianiaya, Budi Cahyono sempat pulang dan mengeluh lehernya sakit. Dia sempat dilarikan di rumah sakit Sampang hingga ke RSU dr Soetomo Surabaya. Sang guru pun meninggal akibat mati batang otak.

Sianit Sinta (23), istri mendiang Ahmad Budi Cahyono (27), guru seni rupa SMAN 1 Torjun, Sampang, masih terlihat berduka mengenang suaminya yang meninggal karena dianiaya siswanya sendiri.

Ditemui di kediamannya, Jumat 2 Februari 2018, mata perempuan itu masih terlihat sembab. Sianit mengatakan bahwa sepulang dari sekolah, suaminya itu melakukan hal yang tidak biasa.

“Sepulang dari sekolah, Mas Budi salat, setelahnya duduk bersenderan di tembok kamar,” kata Sianit.

Menurut Sianit, tidak seperti biasanya suaminya itu melaksanakan salat di rumah. Biasanya, Budi, sapaan akrab suaminya tersebut, salat di sekolah.

Di Kamis 1 Februari 2018 yang kelabu itu, usai salat, guru Budi langsung duduk bersender dinding dalam posisi bersila.

Kemudian Sianit memanggilnya dan mengajak untuk makan siang. Nah, saat hendak merespon panggilan istrinya itulah, Guru Budi yang mencoba bangkit dari duduknya, muntah.

“Saya panggil Mas Budi untuk makan siang, tetapi pada saat bangun, tubuhnya goyang, dia muntah, dari mulutnya keluar cairan bening,” tambah perempuan yang sedang mengandung usia lima bulan itu.

Sianit juga menerangkan, pada saat ditanya, Guru Budi mengaku dipukuli muridnya di sekolah.

Kepada Sianit, mendiang mencoba meyakinkan bahwa dirinya sedang baik-baik saja. Namun apa yang dia katakan tidak sesuai kenyataan. Sesaat setelah mengatakan hal tersebut, Guru Budi pingsan, ambruk tidak sadarkan diri.

Sianit akhirnya minta bantuan warga sekitar untuk membawa suaminya tersebut ke Puskesmas Jrengik, Sampang.

Namun karena kondisinya semakin kritis, akhirnya dirujuk ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya.

Di rumah sakit milik Pemprov Jatim itulah akhirnya Guru Budi mengembuskan nafas terakhir.

 

Sumber: TribunNews

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *