Kursi Presiden Tiongkok Diusulkan Untuk Seumur Hidup Oleh PKT

oleh

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Tampaknya Tiongkok akan kembali ke zaman ketika seorang kaisar di negeri tersebut berkuasa seumur hidupnya. Kali ini, pemimpinnya bukan seorang raja, melainkan presiden. Namanya adalah Xi Jinping.

 

 

Pada Minggu 25 Februari 2018, Partai Komunis Tiongkok (PKT), satu-satunya partai politik di negara tersebut, mengumumkan bahwa mereka akan menghapus pembatasan masa jabatan presiden dan wakil presiden.

Mereka akan melakukan pemungutan suara pada Maret 2018 untuk menghapus frasa pada konstitusi yang menyatakan bahwa presiden dan wakil presiden “tidak boleh menjabat lebih dari dua periode beruntun”. Sama seperti di Indonesia, masa jabatan presiden dan wakil presiden adalah 5 tahun untuk satu periodenya.

Keputusan PKT, yang juga dipimpin Xi dengan jabatan sekretaris jenderal, bisa dipastikan membuka jalan bagi sang presiden untuk berkuasa seumur hidup atau selama ia menginginkannya. Bayangan akan kembali hadirnya seorang penguasa yang otoriter pun kembali muncul.

Prediksi para pengamat bahwa Xi akan menjadi pemimpin terkuat di RRT menyamai, bahkan mungkin melebihi, Mao Zedong tampak mendekati kenyataan.

Para penguasa di Tiongkok memutuskan untuk membatasi masa jabatan presiden setelah Mao wafat pada 1976 untuk menghindari perpecahan karena perebutan kekuasaan. Mereka membangun sebuah sistem konsensus di mana kekuasaan dibagi kepada sejumlah pejabat tinggi PKT.

Namun Xi, yang menjabat sebagai presiden sejak 2013 menggantikan Hu Jiantao, sepertinya berhasil mengonsolidasikan kekuatan untuk memperpanjang masa kekuasaannya. Jika masih ada pembatasan periode, ia hanya akan berkuasa hingga 2023.

Gebrakannya untuk membasmi korupsi pada awal masa kekuasaannya berhasil mengambil hati masyarakat Tiongkok. Namun demikian banyak yang menyatakan gebrakan tersebut lebih untuk konsolidasi kekuasaan dan senjata politik ketimbang memberantas korupsi secara serius.

Ia juga menjadi arsitek reformasi perekonomian Tiongkok, menumbuhkan nasionalisme, dan berambisi mengembalikan Tiongkok kepada masa kejayaannya dengan menjadi aktor utama di dunia.

Keputusan PKT ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Kemungkinan bakal dihapusnya pembatasan masa jabatan presiden tersebut sudah diperkirakan para pengamat usai berlangsungnya Kongres Nasional ke-9 PKT tahun lalu.

Pertanda yang paling jelas adalah dimasukannya “Pemikiran Xi Jinping” ke dalam konstitusi RRT. Hal yang membuatnya berada dalam posisi sejajar dengan dua pemimpin besar Tiongkok sebelumnya, Mao Zedong dan Deng Xiaoping.

Hebatnya lagi ia menjadi pemimpin kedua setelah Mao yang masih hidup saat pemikirannya dimasukkan dalam konstitusi. “Teori Deng Xiaoping” baru masuk konstitusi setelah ia meninggal.

Masuknya “Pemikiran Xi Jinping” dalam konstitusi membuatnya makin kuat karena siapapun yang menentang pemikiran tersebut akan dianggap melanggar konstitusi, yang merupakan sebuah kejahatan besar.

“Xi Jinping kini memiliki jaminan dukungan dari institusi. Ia bisa menjadi kaisar seumur hidup–berkuasa selama kesehatannya mengizinkan,” kata Willy Lam, seorang profesor di Center for China Studies, Chinese University of Hong Kong, kepada CNN pada saat itu.

Sebuah prediksi yang semakin mendekati kenyataan

Zhang Ming, ahli sejarah yang sudah pensiun dari Universitas Renmin di Beijing, kepada The New York Times menyatakan bahwa Xi akan jalan terus.

“Di Tiongkok, ia bisa melakukan apa yang ingin dilakukannya dan ini adalah sebuah sinyal jelas yang ia kirimkan.”

Sementara itu Su Wei, akademisi dan anggota PKT, dikutip Global Times (h/t BBC) menyatakan bahwa partai telah mengambil keputusan yang penting karena Tiongkok membutuhkan kepemimpinan yang stabil, kuat, dan konsisten pada era 2020-2035.

Sinyal Kelemahan?

Akan tetapi, beberapa pengamat kepada CNN menyatakan bahwa penghapusan periode jabatan presiden tersebut bisa jadi malah menjadi sinyal kelemahan Xi Jinping. Terutama karena ia sepertinya tidak mau ada tokoh politik lain yang naik panggung.

Keputusan ini justru bisa mendorong berbagai faksi dalam PKT yang diam-diam berupaya menjatuhkan Xi. Walaupun tidak tampak oleh publik, ada beberapa faksi di dalam PKT yang terus bertarung berebut kekuasaan.

Selain itu, dengan kekuasaan absolut, sang presiden akan menjadi kambing hitam jika dalam masa kekuasaannya terjadi hal-hal negatif pada perekonomian Tiongkok atau krisis internasional.

Jon Sullivan, direktur China Policy Institute di University of Nottingham, menyatakan jika Xi bersikeras memimpin negara dalam jangka waktu tidak tentu maka akan meniadakan institusionalisasi transisi kekuasaan yang telah berjalan dengan baik di dalam PKT selama 35 tahun terakhir.

Institusionalisasi transisi kekuasaan itu juga, menurut Sullivan, yang membuat Tiongkok bertahan ketika rezim-rezim komunis lainnya di dunia mengalami keruntuhan.

Tidak sedikit rakyat Tiongkok yang menyayangkan keputusan penghapusan masa jabatan presiden tersebut. Mereka ketakutan keputusan tersebut akan melahirkan seorang kaisar baru. Beberapa warga Tiongkok pun menggunakan meme sebagai bentuk protes.

 

 

Gambar tokoh kartun beruang Winnie The Pooh, yang dianggap mirip Xi Jinping, dikabarkan Quartz, beredar di Weibo dan WeChat.

Namun pemerintah Tiongkok bergerak cepat. Menurut FreeWeibo, pemerintah memblok semua pencarian yang menggunakan kata-kata “naik tahta,” “batas waktu”, dan “Winnie the Pooh”.

Satu hal lain yang juga diblok di internet negara itu adalah pencarian nama “Yuan Shikai”. Dia adalah mantan presiden yang membubarkan parlemen pada 1913 dan mengangkat dirinya sebagai kaisar pada 1915. Yuan digulingkan oleh para oposisi pada 22 Maret 1916.

 

Sumber: Beritagar

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *