Pertemuan Korea Utara-Amerika Serikat Terancam Batal, Hingga Korea Selatan Siap Jadi Mediator

oleh -205 views

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Tanggal pertemuan antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah ditetapkan. Meskipun begitu, kondisi kedua negara tersebut malah menegang bahkan pertemuan mereka terancam batal.

 

 

Hal tersebut dilandasi oleh kemarahan Korea Utara karena Amerika Serikat dan Korea Selatan tetap melanjutkan latihan perang gabungan yang dianggap mengancam bagi Pyongyang.

Padahal rencananya, pertemuan tersebut akan dihadiri oleh para pejabat tinggi untuk mendiskusikan soal tindak lanjut dari implementasi hasil pertemuan Kim Jong Un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae In pada April lalu.

Dalam sebuah pernyataan di media Korea Utara, KCNA, latihan bersama Amerika Serikat – Korea Selatan bertajuk Max Thunder itu merupakan provokasi militer yang disengaja dan menjadi sebuah tantangan atas pertemuan Kim Jong Un dan Moon Jae In.

KNCA menyebut, Amerika Serikat memfasilitasi jet temput siluman F-22 dan pesawat pengebom nuklir B-52. Padahal Amerika Serikat sebelumnya pernah mengancam akan menghansurkan fasilitas nuklir Korut dengan dua jet tempur itu.

Karenannya, Korea Utara mengatakan, pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump yang akan dilakukan di Singapura pada 12 Juni mendatang terancam batal.

“Amerika Serikat harus memikirkan dengan seksama nasib rencana KTT Korea Utara-Amerika Serikat di tengah provokasi militer yang mereka lakukan dengan Korea Selatan. Kami masih memonitor bagaimana Amerika Serikat dan Korea Selatan bereaksi,” tulis KCNA.

Meskipun Amerika Serikat telah membantah bahwa latihan militer gabungan antara Amerika Serikat-Korea Selatan sebagai alat untuk melancarkan invansi terhadap Korea Utara, pemerintah Pyongyang menegaskan menolak desakan yang memojokkan dari Amerika Serikat agar Korea Utara melucuti senjata nuklir mereka.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara Kim Kye Gwan kepada KCNA, seperti yang dikutip Reuters pada Rabu 16 Mei 2018.

“Jika Amerika Serikat mencoba memojokkan kami dengan memaksakan melucuti nuklir secara sepihak, kami tidak lagi tertarik pada dialog itu,” kata Kye Gwan.

Kye Gwan menambahkan, pihak Korea Utara menampik bantuan yang diberikan Amerika Serikat untuk pembangunan ekonomi Korea Utara setelah Penasihat Keamanan John Bolton mengatakan Amerika Serikat akan menerapkan “model Libya” untuk Korea Utara.

Model Libya adalah pembunuhan Moammar Gaddafi usai Libya menghapuskan program nuklir mereka.

“Kami tidak pernah berharap bantuan Amerika Serikat bagi pembangunan ekonomi kami dan kami tidak akan membuat kesepakatan seperti itu,” kata Kye Gwan.

Meskipun sempat menolak untuk melucuti fasilitas pembuat senjata nuklir, dalam pencitraan satelit, terlihat Korea Utara membongkar tempat fasilitas nuklir mereka.

Diberitakan Reuters, Rabu 16 , dalam citra satelit yang ditangkap Planet Labs tertanggal 14 Mei terlihat beberapa fasilitas nuklir Korea Utara mulai dibongkar satu per satu, salah satunya di Punggye-ri.

Aksi pelucutan senjata nuklir tersebut menjadi langkah awal dalam proses perdamaian dengan Korea Selatan yang diperoleh setelah pertemuan Kim Jong Un dengan Mon Jae In.

Terkait ancaman pembatalan pertemuan antara Donald Trump dan Kim Jong Un yang akan dilaksanakan pada 12 Juni 2018 di Singapura, Donald Trump angkat bicara. Melansir dari AFP, Donald Trump mengaku belum memperoleh pernyataan resmi dari pemerintah Korea Utara soal pembatalan pertemuan tersebut.

“Kami belum diberitahu sama sekali. Kami belum dengar apa-apa. Lihat nanti. Apapun yang terjadi, terjadilah,” ujar Donald Trump pada Kamis 17 Mei 2018.

Namun begitu, pendapat berbeda diutarakan oleh Kim Hyun Wook, analis Korea National Diplomatic Academy, yang menyebut bahwa langkah Korea Utara hanyalah bagian dari diplomasi klasik dengan China dan Amerika Serikat.

“Sepertinya Kim Jong Un didorong untuk menerima permintaan Amerika Serikat untuk ‘denuklirasi terlebih dulu’. Tapi, kini Korea Utara mencoba untuk mengubah posisinya setelah memperbaiki hubungan dengan China,” pungkasnya kepada AFP.

Sementara itu, Presiden Korea Selatan Moon Jae In dalam pernyataan resminya mengatakan dirinya siap menjadi mediator antara Korea Utara dan Amerika Serikat yang semakin memanas.

“Melihat pernyataan dari Korea Utara dan Amerika Serikat, kami menilai keduanya berkeinginan untuk saling memahami,” tulis pernyataan resmi Blue House, istana Presiden Korea Selatan. Moon Jae In dijadwalkan akan bertemu Donald Trump di Gedung Putih, Washington D.C pada 22 Mei 2018.

 

Sumber: Kumparan

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *