Inilah 5 Hal Yang Diinginkan Kim Jong Un dari Donald Trump

oleh

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan memberikan bantuan ekonomi kepada Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un jika Korea Utara melakukan denuklirisasi. Lantas, apakah itu yang diinginkan Kim Jong Un?

 

 

Dalam berbagai kesempatan, Donald Trump menyampaikan bahwa dialognya dengan Kim Jong Un di Singapura pada Selasa 12 Juni 2018 akan membahas soal denuklirisasi dan perdamaian Perang Korea.

Ia juga meminta Korea Selatan, Jepang, dan China untuk memberi dukungan ekonomi untuk Korea Utara bila pertemuan pada Selasa 12 Juni 2018 berjalan lancar. Donald Trump bahkan tidak menutup kemungkinan membangun hubungan bisnis Amerika Serikat-Korea Utara untuk pertama kalinya.

Namun nyatanya, Kim Jong Un menginginkan lebih dari sekedar yang Donald Trump tawarkan. Dikutip dari USA Today, berikut ini 5 harapan Kim Jong Un dari pertemuannya dengan Donald Trump.

1. Jaminan keamanan dari Amerika Serikat

Pada Mei lalu, juru bicara Kim Jong Un menyampaikan bahwa Korea Utara tidak akan melucuti senjata nuklirnya, apabila tidak ada jaminan keamanan dari Amerika Serikat.

Korea Utara menjadi waswas untuk melucuti senjata nuklirnya setelah Penasihat Keamanan John Bolton mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menetapkan “model Libya” untuk Korea Utara. Model Libya yang dimaksud adalah pembunuhan Moammar Gaddafi usai Libya menghapuskan program nuklir mereka.

Hingga saat ini, nuklir adalah alat tawar nomor wahid bagi Korea Utara.

2. Perdamaian dengan Amerika Serikat

Sikap Korea Utara akhir-akhir ini yang dinilai lebih membuka diri dan menyetujui untuk bertemu Donald Trump, mengindikasikan bahwa Kim Jong Un ingin menstabilkan hubungan dengan Amerika Serikat.

“Kim Jong Un mungkin bersedia untuk denuklirisasi bila Donald Trump berjanji untuk mengakhiri hubungan yang buruk dengan Korea Utara, dan benar-benar melakukannya,” sebut Leon Sigal, penulis ‘Disarming Strangers: Nuclear Diplomacy with North Korea’.

3. Perkembangan Ekonomi

Kim Jong Un dalam video propaganda beberapa waktu lalu terlihat menangis lantaran merasa tidak mampu memperbaiki perekonomian Korea Utara. Sanksi dan embargo Barat atas nuklir Korea Utara semakin “menggigit”.

Dalam video itu, terlihat Kim Jong Un berdiri di tepi pantai, memandang nanar ke garis cakrawala. Terlihat, tetes air mata mengalir di pipinya.

Hingga pada pidato tahun baru, Kim Jong Un mengatakan Korea Utara siap bangkit dari kemiskinan dan akan mengembangkan sektor ekonominya. Hal ini didukung oleh Presiden Korea Selatan, Moon Jae In, yang berjanji akan memodernisasi jalur transportasi Pyongyang.

Untuk mewujudkan janji itu, Korea Selatan butuh keringanan sanksi dari Dewan Keamanan PBB. Akan tetapi, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, menegaskan tidak akan meringankan sanksi hingga Korea Utara melucuti semua senjata nuklirnya.

4. Mengulur Waktu

Pengamat Korea dan China di International Assessment and Strategy Center, Washington D.C., Richard Fisher, menilai Kim Jong Un tengah mengulur waktu sembari melakukan sejumlah negosiasi dengan pemimpin negara.

Fisher menyebut Kim Jong Un mungkin saja masih menyempurnakan senjata nuklirnya agar bisa menyerang Amerika Serikat kapanpun.

“Mereka (pernah) melakukan uji coba dua rudal balistik antarbenua yang mampu mencapai Amerika Serikat. Saya yakin mereka bekerja siang dan malam untuk mengembangkan nuklirnya,” kata Fisher.

5. Memperbaiki Citra

Lebih lanjut, Fisher menilai negosiasi Kim Jong Un dengan Donald Trump dan Moon Jae In, hanya untuk membuatnya terlihat layak di mata dunia, agar dapat mengurangi peran Amerika Serikat di timur laut Asia. Selain itu agar Kim Jong Un dapat menjalin kerja sama dengan negara lain seperti China dan Rusia.

“Sebelum sejumlah negosiasi ini, Kim Jong Un dilihat sebagai ‘manusia roket’ yang mengancam keamanan dunia. (Oleh karenanya Presiden Xi Jinping) tidak bisa menerima dia,”

“Kini dengan dilakukannya sejumlah negosiasi, Xi Jinping dapat mulai menerima Kim Jong Un dan memperkuat hubungan mereka yang sudah sangat dekat,” jelas Fisher.

Tidak hanya Xi Jinping, sejumlah pemimpin negara lainnya seperti Rusia dan Suriah juga mulai melirik Kim Jong Un.

Rusia telah mengundangnya untuk datang ke konferensi di Vladivostok pada September, sedangkan media pemerintah Korea Utara, KCNA, menyebut Presiden Bashar Assad akan menjadi pemimpin pertama setelah Presiden Korea Selatan yang mengunjungi Kim Jong Un di Pyongyang.

 

Sumber: Kumparan

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *