Bank Century Dirancang Menjadi Pengucur Dana Partai Penguasa?

oleh
AKBAR FAISAL

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Mantan anggota Pansus Century Akbar Faisal mengaku tidak bisa berasumsi banyak terkait dugaan Bank Century yang dirancang menjadi pengucur dana partai penguasa.

 

 

Dugaan itu merujuk pada lapran media Asia Sentinel berdasarkan dokumen yang mereka dapatkan.

Dari laporan investigasi itu, Akbar teringat informasi serupa yang pernah disampaikan almarhum Siti Fajriah. Siti merupakan Deputi Gubernur Bank Indonesia.

“Saat itu dia mengatakan, coba lihat perilaku dan peristiwa perbankan di Indonesia setiap ada pemilu. Ada saja bank yang bernasib seperti Century ini,” ujarnya melalui sambungan satelit dalam Metro Pagi Primetime, Jumat, 14 September 2018.

Dari pernyataan tersebut, Akbar bisa menemukan benang merah dari pendapat yang disampaikan Asia Sentinel. Hanya, apakah Century memang dirancang untuk mengakomodasi partai penguasa, ia tidak bisa memastikan.

Pun dengan audit investigasi Asia Sentinel yang menyebut uang hasil ‘rampokan’ Bank Century terhadap negara sebesar Rp177 triliun. Temuan Pansus Century di DPR, angkanya hanya Rp6,7 triliun. Akbar mengaku tak terlalu paham dari mana asal angka tersebut.

“Saya tidak terlalu paham, bisa saja (nilainya Rp177 triliun) tapi saya tetap disiplin pada angka Rp6,7 trilun. Itu sudah kami buktikan pada proses angket itu,” kata dia.

Inisiator Pansus Century Misbakhun berpendapat senada. Dia tak mengamini atau membantah bahwa sejak awal Bank Century memang dirancang sebagai ‘celengan’ partai yang saat itu berkuasa; Demokrat di bawah pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun, audit berikutnya mungkin sedikit membuka tabir aliran dana yang disalurkan Bank Century ke pihak-pihak tertentu.

Misalnya ada orang yang tidak pernah mendaftar sebagai nasabah, tapi punya simpanan di Century. Usut punya usut figur tersebut terindikasi masih keluarga penguasa saat itu bahkan mengalir ke salah satu media cetak yang berafiliasi dengan partai penguasa.

“Dia tidak pernah melakukan setoran, tapi ada valas ke rekening dia dari internal bank,” ungkapnya.

Kasus lain, kata Misbakhun, penggunaan rekening yang sudah tidak aktif tetapi tiba-tiba menerima uang dalam jumlah besar. Sayangnya uang itu hanya ‘mampir’ sesaat kemudian hilang seakan-akan ditarik tunai oleh pemiliknya.

“Padahal, pemiliknya tidak mengetahui rekening itu sudah tidak aktif dan ada uang masuk yang besar lalu ditarik lagi. Bahkan orang yang tidak mungkin memiliki uang miliaran bisa kita temukan,” jelas dia.

Sebelumnya, artikel berjudul Indonesia’s SBY Government: Vast Criminal Conspiracy’ yang ditulis John Berthelsen mengulas hasil investigasi kasus bailout Bank Century.

Menurut artikel tersebut, pemerintah SBY telah melakukan konspirasi kriminal terbesar yang mencuri dana USD12 miliar dari pembayar pajak dan mencucinya melalui bank-bank internasional.

Dari hasil investigasi setebal 488 halaman tersebut disebutkan ada 30 pejabat yang terlibat dalam kasus ini. Hasil investigasi ini diajukan ke Mahkamah Agung Mauritania bulan lalu.

Laporan analisis forensik yang diketahui sebagai bukti, dikompilasi oleh satuan tugas penyidik dan pengacara dari Indonesia, London, Thailand, Singapura, Jepang, dan negara-negara lain.

Kasus ini diduga melibatkan serangkaian lembaga keuangan internasional termasuk Nomura, Standard Chartered Bank, United Overseas Bank (Singapore), dan lain-lain.

Banyak penipuan yang diduga memanipulasi status bank gagal PT Bank Century Tbk pada 2008 dan yang dikenal sebagai ‘Bank SBY’, referensi untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dana itu diyakini berisi dana gelap yang terkait dengan Partai Demokrat yang dipimpin Yudhoyono. Bank ini direkapitalisasi pada 2008 dan berganti nama menjadi Bank Mutiara.

Setelah dinyatakan bangkrut pada 2008, Bank Century diakuisisi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan melakukan rekapitalisasi serta mengubah namanya menjadi Bank Mutiara.

Dalam hasil investigasi yang termaktub dalam berkas gugatan Weston Capital Internasional, kasus tersebut berlanjut saat J Trust, bank besar asal Jepang, secara tiba-tiba menawarkan dana USD989,1 juta atau setara Rp 14 triliun untuk membeli Bank Mutiara pada 2013.

Sumber pendanaan penawaran dari J-Trust tidak pernah teridentifikasi. Namun, J Trust mampu mengakuisisi Bank Mutiara pada 2014. Dalam laporan investigasi itu disebut akuisisi disetujui oleh sejumlah pejabat Indonesia.

Para pejabat Indonesia sepakat J Trust sebagai pihak yang paling cocok membeli Bank Mutiara. Padahal, J trust tak mengelola bank tersebut selazimnya bank komersial.

Sumber: Medcom

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *