Kecemasan di Balik Perlawanan Balik Joko Widodo

oleh -22 views

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo mulai reaktif merespons serangan berita bohong atau hoaks dan fitnah yang dianggap berasal dari kubu rival, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Pada sejumlah kesempatan, Jokowi makin gencar melakukan serangan balik usai dalam beberapa waktu hanya bertahan dan sekedar menangkis. Serangan Jokowi menyasar pada konten-konten hoaks dan fitnah yang dilontarkan kubu Prabowo-Sandiaga, seperti kabar bohong penganiayaan Ratna Sarumpaet.

Tidak cuma itu, Jokowi juga perlahan mulai melakukan tudingan ke pihak lawan, misalnya soal penggunakan konsultan asing. Tudingan ini dilancarkan Jokowi karena gerah kerap disebut sebagai antek asing.

Meskipun tidak menyebut spesifik, yang jelas mantan Gubernur DKI Jakarta itu menjelaskan bahwa konsultan asing yang dimaksud menggunakan teori propaganda ala Rusia, yaitu dengan memproduksi dan menyebarkan hoaks serta fitnah.

Strategi yang digunakan Jokowi belakangan ini dinilai bukan terjadi begitu saja. Jokowi bersama timsesnya pasti sudah mematangkan strategi menyerang ini, mengingat hari pemungutan suara Pemilu 2019 tinggal kurang dari tiga bulan lagi.

Pengamat politik dari Habibie Center, Bawono Kumoro melihat pernyataan propaganda ala Rusia yang dilontarkan Jokowi sebagai sesuatu yang menarik dan tidak biasa. Sebab, selama ini Jokowi dikenal sebagai sosok yang santai dalam menanggapi berbagai tudingan.

“Selama ini dikenal woles, santai, orang Jawa sekali, kenapa tiba-tiba kok ofensif, agak keras, terus melancarkan katakanlah attacking kepada kubu Pak Prabowo?” kata Bawono.

Bawono menyebut setidaknya ada tiga hal yang bisa dibaca di balik strategi menyerang Jokowi ini. Pertama, Jokowi ingin menunjukkan bahwa dirinya kini telah memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi gerakan Pilpres 2019.

“Beliau merasa kepercayaan dirinya sudah pada titik tertinggi dan beliau sangat confidence untuk melancarkan serangan,” ujarnya.

Kedua, bisa juga dibaca bahwa Jokowi sudah mampu mengendalikan kekuatan politiknya berbekal pengalaman empat tahun menjadi kepala negara.

Terakhir, bisa juga menunjukkan bahwa Jokowi merasa posisi dirinya sebagai calon pertahanan pada Pilpres 2019 masih belum aman. Apalagi rata-rata elektabilitas Jokowi dari berbagai hasil survei hanya berkisar pada angka 50 persen.

“Jadi beliau merasa kalau ini tidak di-counter attack serangan-serangan dari rival kubu sebelah, bisa menggerus elektabilitas yang saat ini cuma 50% sekian, digerus dengan berita bohong akan makin menurun,” tuturnya.

Diketahui, berbagai lembaga survei memperlihatkan tren elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf cenderung stagnan belakangan ini.

Hasil survei Para Sindicate misalnya, memperlihatkan tren-tren elektabilitas Jokowi-Ma’ruf masih unggul namun cenderung menurun. Sementara Prabowo-Sandiaga mengalami tren kenaikan.

Bahkan, survei yang dilakukan Median mendapatkan selisih elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi hanya berjarak 9,2 persen atau berkisar 1 digit.

Bawono menekankan bahwa berita bohong atau hoaks akan sangat berpengaruh pada terbentuknya opini publik dan berpotensi mendelegitimasi Jokowi selaku capres.

Karenanya Jokowi perlu melakukan serangan balik guna meminimalisir opini liar yang berkembang atas hoaks dan fitnah dari kubu sebelah.

“Setiap apapun yang dilontarkan oleh politisi termasuk berita bohong itu mendelegitimasi beliau Jokowi,” kata Bawono.

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri ‎(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno menuturkan dalam pilpres, sudah umum para calon menggunakan strategi yang berbeda. Kubu penantang sudah pasti akan melakukan serangan yang bertujuan untuk mendelegitimasi petahana.

Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menyebarkan berita hoaks kepada kubu petahana.

“Logika sebagai penantang pastinya ingin menihilkan apa yang sudah dilakukan pemerintah,” kata Adi.

Dalam penyebaran hoaks tersebut, Adi menyebut bahwa kubu penantang hanya tinggal melemparkan sebuah isu atau wacana kepada masyarakat.

Dari isu yang dilemparkan tersebut, kemudian akan berkembang menjadi perbincangan di masyarakat hingga akhirnya membentuk sebuah opini publik. Jika isu yang dilontarkan berkaitan dengan kinerja pemerintah, maka kubu penantang berharap isu itu berkembang menjadi opini bahwa pemerintah gagal.

Karenanya, Adi menilai, klarifikasi menjadi penting dilakukan oleh kubu petahana agar hoaks yang disebar tidak sampai membentuk opini di masyarakat. Jika klarifikasi terhadap hoaks tak dilakukan, maka akan membuat masyarakat menilai bahwa hoaks tersebut merupakan sebuah kebenaran.

“Kalau tidak ada penjelasan, orang seakan-akan yakin bahwa itu benar. Itu yang kemudian ditakutkan, bukan hanya merusak kredibilitas tapi juga orang semakin takut,” tutur Adi.

Sumber: CNN Indonesia

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *