Betapa Tidak Masuk Akalnya Rencana Sandiaga Uno Buat Wisata Halal di Bali

oleh -49 views

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Sandiaga Salahuddin Uno mengulang jani yang pernah ia utarakan ketika menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Ketika itu, ia bilang ingin mengembangkan wisata halal di ibu kota, meskipun kita semua tahu itu tidak sempat direalisasikan karena ia kadung maju sebagai calon Wakil Presiden.

Kini, dengan statusnya sebagai calon orang nomor dua di Indonesia, Sandiaga mengatakan hal serupa, hanya saja untuk wilayah yang berbeda: Bali. Dia berencana menjadikan Bali sebagai tujuan wisata halal.

“Prabowo-Sandiaga fokus memberdayakan UMKM. Di Bali sendiri kami harapkan pariwisata akan lebih baik dan multiplayer-nya banyak sekali kepada UMKM. Salah satunya juga pariwisata halal. Banyak potensinya, dan sekarang diambil oleh Bangkok,” kata Sandiaga Uno di Denpasar, Bali, Minggu 24 February 2019 kemarin.

Bali punya potensi untuk itu, kata Sandiaga Uno. Dia melihat ada ceruk pasar yang bisa menarik uang hingga triliunan rupiah jika pariwisata halal diterapkan.

“Secara umum potensi pariwisata halal konon kabarnya di atas Rp 3.000 triliun. Ini sangat luar biasa kalau bisa kita ambil untuk gerakan ekonomi di Bali.”

Tapi optimisme Sandiaga berbanding terbalik dengan apa yang diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra. Bukan cuma memberikan ruang, kata Yuniartha, wisata halal tidak mungkin dikembangkan sama sekali. Ia pun menolak gagasan tersebut.

“Tetangga kami, Lombok, sudah menerapkan itu. Janganlah kami juga,” ujarnya, Senin 25 February 2019.

Selama puluhan tahun yang ditonjolkan Bali adalah pariwisata budaya yang tidak melulu selaras dengan ajaran agama tertentu, kata Yuniartha. Dan pariwisata jenis ini terbukti mampu menarik minat jutaan wisatawan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Bali menyebut sepanjang tahun lalu ada 6.070.473 turis yang datang ke Bali. Angka ini naik hingga 6,54 persen dibanding 2017. Turis terbanyak berasal dari Cina (1.361.326 orang), diikuti Australia (1.155.240), India (352.652), dan Inggris (267.210).

Jika misalnya mengusung konsep halal, katanya, wisatawan justru akan bingung dan bisa merugikan Bali secara keseluruhan. Bali akan jadi tidak punya diferensiasi dengan tempat-tempat wisata lain.

“Biarlah orang punya pilihan. Kalau mau wisata halal ya ke Lombok atau Aceh. Kalau mau wisata budaya ya ke Bali. Saling berbagi peran.”

Meskipun tidak setuju dengan konsep yang ditawarkan Sandiaga, bukan berarti tidak ada unsur “halal” sama sekali di pulau ini.

“Kalau ada wisatawan Timur Tengah mencari sesuatu yang halal di sini, itu ada,” pungkas Yuniartha.

Harus Disesuaikan dengan Masyarakat

Guru Besar geografi regional sekaligus bekas ketua Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM M. Baiquni mengatakan hal serupa.

Konsep pariwisata, apa pun jenisnya, harus berangkat dari kenyataan sosial masyarakat di tempat itu. Misalnya, jika masyarakat berasal dari berbagai golongan, maka baiknya wisata yang mengedepankan unsur tertentu dihindari.

Karena alasan tersebut Baiquni menilai gagasan Sandi mengada-ada.

“Masyarakat Bali itu beragam, multikultural, sehingga tidak mudah apabila pariwisata halal dikedepankan,” jelas Baiquni kepada reporter Tirto. Masyarakat di Bali pun mayoritas beragama Hindu. Usul wisata halal jadi terdengar konyol.

Pada akhirnya, bagi Baiquni sebaiknya rencana wisata halal untuk Bali dibuang jauh-jauh. Toh pemerintah dan pelaku wisata sudah bisa mengakomodir kebutuhan orang Islam yang bervakansi ke sana.

“Di Bali masih ada kok rumah makan yang tidak menjual babi. Mereka menyajikan halal food,” pungkasnya.

Sumber: Tirto

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *