Gagal Capai Kesepakatan dengan Amerika Serikat, Kim Jong Un Segera Merapat ke Rusia?

oleh -16 views

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un akan mengunjungi Rusia, menurut sekretaris pers presiden Rusia yang tidak berbagi tanggal atau rincian lain tentang rencana lawatan itu.


“Kunjungan semacam itu memang ada dalam agenda. Kami berharap tanggal dan tempat yang tepat akan ditentukan melalui saluran diplomatik dalam waktu dekat,” kata Dmitry Peskov, dilansir dari Al Jazeera, Selasa 5 Maret 2019.

Belum jelas pula rencana lawatan itu akan termasuk tatap muka antara Kim Jong Un dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Namun, mengingat keduanya sama-sama kepala negara, tatap muka itu diperkirakan akan terjadi.

Pengumuman dikeluarkan ketika Kim Jong Un telah kembali ke Pyongyang, menyusul pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Vietnam pekan lalu, dimana kedua pihak gagal mencapai kesepakatan tentang denuklirisasi maupun pengurangan sanksi terhadap Korea Utara.

Pada hari Senin, laporan media Rusia mengatakan anggota kelompok parlemen Negeri Beruang Merah bidang hubungan Rusia dengan Korea Utara akan mengunjungi Pyongyang pada 12 April 2019 mendatang. Tidak jelas apakah lawatan itu menjadi ‘pembuka jalan’ jelang lawatan Kim Jong Un ke Moskow.

Korea Selatan Usulkan Dialog Tiga Negara, Plus China dan Rusia

Sementara itu, Korea Selatan telah mengusulkan perundingan tiga arah semi-resmi dengan Amerika Serikat dan Korea Utara saat mereka berusaha untuk mengembalikan diplomasi nuklir kembali ke jalur setelah runtuh pasca-KTT Korea Utara-Amerika Serikat kedua di Hanoi, Vietnam.

Proposal untuk perundingan tersebut datang pada pertemuan Dewan Keamanan Nasional pada hari Senin, dipimpin oleh Presiden Korea Selatan, Moon Jae Inm yang mengatakan itu adalah “prioritas utama” Seoul untuk mencegah mundurnya negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Korea Utara.

Pada pertemuan itu, Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung Wha mengatakan pembicaraan yang diusulkan itu, yang dapat mencakup para ahli sipil dari Amerika Serikat dan Korea Selatan, akan membantu menyelesaikan perbedaan tentang berapa banyak pencabutan sanksi yang harus diberikan oleh Washington kepada Korea Utara dengan imbalan langkah-langkah pelucutan nuklir.

“Kita harus melihat apa dan bagaimana Amerika Serikat dan Korea Utara melihat situasi saat ini dan kami akan membuat langkah-langkah mediasi praktis,” kata Kang Kyung Wha.

“Kami akan membuat berbagai langkah untuk membuka kembali dialog antara Amerika Serikat dan Korea Utara. Selain itu, kami akan bekerja sama dengan negara-negara yang tertarik dengan masalah ini, seperti China dan Rusia, untuk membuka kembali dialog Amerika Serikat-Korea Utara sesegera mungkin.”

Korea Utara dan Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan dalam KTT di Vietnam setelah keduanya tidak menyetujui usulan yang diajukan oleh masing-masing pihak.

Kim Jong Un ingin agar Amerika Serikat mencabut sejumlah sanksi signifikan yang diterapkan kepada Korea Utara dengan tawaran bahwa Pyongyang akan menutup fasilitas nuklirnya di Yongbyon.

Di sisi lain, Donald Trump ingin agar Korea Utara melucuti semua persenjataan dan fasilitas pengembangan nuklirnya, dengan imbalan Amerika Serikat akan mencabut sanksinya kepada negara tertutup itu.

Namun, keduanya tidak mencapai titik temu. Mereka meninggalkan Hanoi tanpa menyetujui kesepakatan apapun serta menjadikan dialog perdamaian menjadi berjalan di tempat sejak keduanya terakhir kali bertemu di Singapura pada Juni 2018.

Sementara itu, pemantau nuklir dunia meyakini bahwa Korea Utara memiliki situs-situs lain selain di Yongbyon yang memproduksi uranium tingkat senjata yang tersembunyi di seluruh negeri.

Sumber: Liputan6

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *