Keperkasaan Para Pemuda Manchester United di Parc des Princes

oleh -34 views

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Manchester United berhasil melenggang ke babak perempat final Liga Champions UEFA 2018/19 setelah menyingkirkan Paris Saint-Germain.

Kekalahan 0-2 di leg pertama berhasil dibalas dengan kemenangan 3-1 pada leg kedua yang berlangsung pada Kamis 7 Maret 2019 WIB.

Ketika kalah 0-2 di Old Trafford pada leg pertama, Ole Gunnar Solskjaer berkata: “Gunung ada untuk didaki.” Solskjaer mungkin tidak sadar bahwa pendakiannya ini akan sangat sulit:

(1) Belum pernah ada sejarahnya di Liga Champions bagi kesebelasan yang kalah dua gol aau lebih di kandang pada leg pertama bisa lolos ke babak berikutnya

(2) Manchester United bertandang ke Paris dengan 10 pemain dipastikan absen. Namun yang Solskjaer tidak sadari mungkin Paris hanya berada 35 meter di atas permukaan laut, kota itu secara harafiah benar-benar bukan sebuah bukit, apalagi gunung.

Pemain-pemain yang absen untuk Manchester United kebanyakan adalah pemain kunci, seperti Paul Pogba, Ander Herrera, Anthony Martial, Alexis Sanchez, Jesse Lingard, dan Nemanja Matic. Pada susunan pemain utama, Manchester United bahkan memaksa Eric Betrand Baily bermain di pos bek kanan dan Andreas Pereira bermain di sayap kiri.

Solskjaer pun terpaksa membawa sejumlah pemain muda minim pengalaman ke Parc des Princes. Mereka adalah Mason Greenwood (17 tahun), Tahith Chong (19 tahun), James Garner (17 tahun), dan Angel Gomes (18 tahun).

Keempat pemain didikan akademi Manchester United tersebut melengkapi barisan penghuni bangku pemain pengganti Manchester United lain yang juga diisi Sergio Romero, Marcos Rojo, dan Diogo Dalot. Susunan pemain pengganti seperti ini tentu menunjukkan bahwa Manchester United cukup riskan dalam opsi pergantian pemain.

Namun nyatanya, Manchester United mampu mencetak gol cepat melalui Romelu Lukaku pada menit kedua. Sempat disamakan Juan Bernat, Manchester United kembali unggul lewat gol kedua Lukaku pada menit ke-30, memanfaatkan blunder bola muntahan Gianluigi Buffon pada saat mengantisipasi tembakan Marcus Rashford.

Manchester United berhasil unggul dengan susunan pemain utama yang sebenarnya tidak ideal. Indikasi tersebut terlihat dengan pergantian cepat yang dilakukan oleh Solskjaer pada menit ke-36. Solskjaer menarik keluar Bailly dan memasukkan Dalot untuk mengisi pos bek kanan.

Butuh Gol Tapi Bermain Bertahan

Melihat susunan pemain Manchester United yang dihasilkan dari banyaknya pemain kunci yang absen, wajar jika Solskjær kemudian tidak bisa bermain menyerang. Sejujurnya, permainan Manchester United sangat bertahan, mengingatkan pada permainan José Mourinho. Padahal Manchester United butuh mengejar defisit dua gol.

Meskipun PSG juga tidak memainkan dua pemain kuncinya dari awal, Neymar dan Edinson Cavani (kemudian baru masuk di babak kedua), mereka tetap lah berbahaya, ditambah bermain di kandang sendiri pula. Akhirnya PSG unggul telak dalam penguasaan bola (PSG 72%, Manchester United 28%) dan jumlah tembakan (PSG 12, Manchester United hanya 5).

PSG yang menguasai pertandingan membuat Manchester United menumpuk banyak pemain ketika bertahan dan bermaksud menyerang hanya lewat counter attack. Namun yang membedakan permainan bertahan serangan baliknya Mourinho dengan Solskjaer adalah pada eksekusinya yang efektif.

Mourinho adalah pelatih taktis yang sering merespons cara bermain lawannya. Sementara Solskjaer menyetel Manchester United bermain demikian karena memang sesuai dengan “filosofi Manchester United” alias “The United Way”. Setan Merah pun berhasil menyapu bersih semua laga tandang bersama Solskjaer sejauh ini karena permainan seperti itu.

Duet penyerang Manchester United, Rashford dan Lukaku, masing-masing berhasil mencatatkan dua shot on target. Pada interview pasca pertandingan, Lukaku mengatakan bahwa dia diberi tahu Rashford untuk selalu siap merespons dan menghadapi bola susulan ketika Rashford menembak. Bukan kebetulan, dua gol pertama Manchester United hadir dari situasi itu.

Namun, kedigdayaan dan kecepatan PSG tetap tercermin selama 90 menit. Salah satunya dari gol penyama kedudukan dari Bernat. Sampai turun minum, kedudukan masih 2-1 untuk keunggulan United; tapi mereka masih butuh satu gol lagi untuk bisa lolos ke perempat final.

Percaya Pemain Muda

Nyaris tersingkir, Solskjaer tidak ragu memainkan “filosofi Manchester United” lainnya, yaitu memberdayakan pemain akademi. Pada menit ke-80, giliran Chong yang dimainkan menggantikan Pereira yang permainannya tidak maksimal di sayap kiri. Enam menit kemudian Greenwood masuk menggantikan Ashley Young.

Perlu diketahui, laga ini menjadi debut bagi Greenwood bermain untuk skuat senior Manchester United. Sementara Chong sebelumnya baru sekali bermain di Liga Primer Inggris dan sekali bermain di Piala FA.

Di saat Manchester United sangat butuh gol, pergantian itu tidak menjadi blunder taktik. Setan Merah justru mendapatkan penalti pada tambahan waktu babak kedua, atau sekitar 5 menit setelah Greenwood memasuki lapangan. Chong berperan saat penyerangan menjelang insiden penalti tersebut. Sementara Greenwood melakukan pergerakan tanpa bola yang membuat Dalot bisa melakukan tembakan.

Penalti tersebut berhasil dieksekusi oleh Rashford ke gawang Buffon; pemain yang lahir satu bulan setelah Buffon menjalani debut Liga Champions. Gol itulah yang membuat United menang 1-3 sehingga United unggul gol tandang untuk melaju ke babak berikutnya. Dramatis.

Rashford yang merupakan produk akademi Manchester United melengkapi kebanggaan Manchester United pada kemenangan ini. Pada susunan 11 pemain utama, Manchester United pun sebenarnya sudah diisi oleh para pemain dari akademi seperti Scott McTominay, Pereira, dan Rashford.

Pemain muda lain seperti Luke Shaw (23 tahun) dan Dalot (19 tahun) pun mampu menjaga kualitas Manchester United untuk tetap mampu menandingi kualitas PSG yang menurunkan para pemain bintang seperti Kylian Mbappé, Ángel Di María, Julian Draxler, Marco Verratti, Thiago Silva, Marquinhos, Dani Alves, dan Buffon.

Kontroversi Insiden Penalti

Salah satu kejadian yang disoroti pada laga dini hari tadi adalah insiden penalti yang Manchester United dapatkan menjelang berakhirnya pertandingan. Presnel Kimpembe dinilai tidak sengaja melakukan handball, posisi tubuhnya bahkan sedang membelakangi bola.

Mark Clattenburg, mantan wasit asal Inggris, menjelaskan jika itu seharusnya tidak penalti, tapi menjadi penalti karena instruksi terbaru dari UEFA.

Clattenburg menulis: “Mereka (UEFA) ingin wasit untuk menghukum handball ketika posisi tangan tidak rapat dengan badan dan dalam posisi non-natural. Dalam hal itu, ofisial telah konsisten.” Kejadian handball Kimpembe persis seperti yang Clattenburg sampaikan, sehingga Damir Skomina menyatakan penalti setelah melihat VAR.

Terlepas dari perdebatan pada insiden penalti, Manchester United bermain di atas ekspektasi mengingat banyaknya pemain kunci mereka yang absen.

PSG sebenarnya mendominasi laga ini. Namun efektivitas serangan Manchester United yang mengandalkan serangan balik membuat PSG ketar-ketir dan kecolongan tiga gol. Kepecercayaan diri Solskjaer pada para pemain mudanya pun layak mendapatkan kredit khusus dalam terciptanya sejarah baru pada laga ini.

Sumber: Pandit Football

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *