Raut Lesu Sandiaga Uno, Tidak Ingin ‘Tercebur’ Narasi Prabowo Menang

oleh -29 views

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Calon Wakil Presiden nomor urut 02, Sandiaga Salahudin Uno terus menjadi perbincangan setelah tidak hadir mendampingi pasangannya, Prabowo Subianto dalam dua deklarasi kemenangan Pilpres 2019.

Sosok Sandiaga Uno baru terlihat ketika Prabowo mendeklarasikan kemenangan untuk ketiga kalinya pada Kamis 18 April 2019 malam.

Namun, ekspresi dan gelagat Sandiaga dalam deklarasi malam itu membuat banyak pihak bertanya-tanya. Pasalnya, gesture dan mimik Sandiaga Uno tidak mencerminkan seseorang yang telah memenangkan pesta demokrasi lima tahunan itu, apalagi Sandiaga tidak pernah memasang muka lusuh seperti itu sebelum-sebelumnya.

Berbeda dengan Prabowo yang berapi-api, Sandiaga memilih berdiri ‘manut’ di belakang Prabowo seraya pasangannya itu membacakan pidato kemenangan. Tidak hanya itu, raut wajah Sandiaga Uno mencerminkan kemuraman sepanjang Prabowo membacakan deklarasi kemenangan mereka.

Menurut pakar semiotika politik, Silvianus Alvin, gesture itu menunjukkan bahwa Sandiaga Uno tidak nyaman menjadi pusat perhatian dalam momen besar tersebut.

Ia mengatakan Sandiaga bisa saja tidak sepakat dengan langkah dan narasi politik yang dibuat oleh Prabowo sehingga dia memperlihatkannya secara tidak langsung dengan cara nonverbal.

“Komunikasi politik ada dua, yaitu verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal itu 30 persen, sementara nonverbal 70 persen, jadi orang lebih bisa menangkap dengan cepat komunikasi nonverbal tanpa harus ada penjelasan,” kata Silvanus kepada CNN Indonesia pada Jumat 19 April 2019.

“Tanpa Sandi harus berkata, para penonton bisa memecah sinyal yang ia berikan lewat ekspresinya kemarin. Selama deklarasi, tatapan Sandiaga tidak mengarah ke media, tapi ke bawah. Gesture ini tidak menunjukkan seorang pemenang dan justru memperlihatkan ketidaknyamanan,” ujar Silvanus.

Padahal, Silvanus menanggap Sandiaga selama ini terkenal dengan keramahan pada warga dan senyumannya ketika tampil di depan publik, apapun keadaannya.

“Gesture Sandiaga Uno yang cenderung menyilangkan tangannya ke belakang juga seolah menunjukkan kalau dia itu hanya manut saja dalam momen itu. Istilahnya seperti nurut perintah saja,” papar Silvanus.

Selain soal raut wajah, Silvanus memaparkan ketidaksetujuan Sandiaga dengan sikap Prabowo juga terlihat dari caranya berpakaian pada malam itu.

Dosen Komunikasi Politik dari Universitas Bunda Mulia itu mengatakan bahwa Sandiaga hanya memakai kaus polo berwarna biru tua. Sementara itu, pasangannya, Prabowo Subianto, mengenakan pakaian safari khasnya berwarna krem dalam momen sepenting itu.

Padahal selama ini keduanya terbilang cukup kompak saat harus tampil bersama di depan publik. Selama dua kali tampil dalam debat bersama, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno juga terlihat kompak dengan mengenakan setelan jas dan peci.

“Pakaian safari Prabowo oke lah masih formal, menunjukkan kalau dia menganggap momen deklarasi itu penting. Tapi malam kemarin, Sandiaga hanya memakai kaus polo, itu kan semi formal. Dan etis enggak sih memakai pakaian seperti itu di momen kemenangan pilpres kemarin?” kata Silvanus.

“Sandiaga tentu hapal terkait momen pemilu 2014 lalu ketika ada dua klaim kemenangan. Saya rasa dengan gesture malam itu, Sandiaga memang sebenarnya tidak ingin tercebur dalam narasi politik yang sama yang dibuat pasangannya pada Pilpres 2014 karena ini persoalan harga diri dan malu,” kata Silvanus.

Silvanus melihat, jika klaim kemenangan Prabowo Subianto benar-benar sesuai hasil perhitungan resmi KPU, maka kubu paslon 02 bisa menepis semua hasil quick count lembaga-lembaga survei. Tapi, bila hasil real count KPU sebaliknya, maka deklarasi kemenangan Prabowo itu hanya membuat Sandiaga malu besar.

“Tapi jika ternyata hasil akhir rekapitulasi suara sesuai dengan hasil quick count, ini bisa menjadi rasa malu besar bagi Sandiaga, karena orang tidak akan lupa rekam jejak politik,” kata Silvanus.

Lebih lanjut, Silvanus melihat seharusnya kubu Prabowo-Sandiaga bisa lebih bijak dalam menyikapi momen usai gelaran Pemilu 2019 ini.

“Seharusnya Prabowo-Sandiaga menunggu saja hasil rekapitulasi suara dari KPU RI. Kedua, mereka seharusnya membangun narasi politik yang mendorong warga ke arah persatuan, kembali ke pancasila sila ketiga,” ucap Silvanus.

Sumber: CNN Indonesia

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *