Donald Trump: Kim Jong Un Akan Berakhir Seperti Moammar Khadafi Jika Tidak Mau Denuklirisasi

oleh -362 views

Situs Berita Terpercaya, Berita Akurat – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak pemimpin Korea Utara Kim Jong Un untuk segera membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat tentang pelucutan senjata nuklir.

 

 

Jika tidak, Donald Trump mengancam bahwa nasib Kim Jong Un dan Korea Utara akan berakhir seperti mendiang Muammar Khadafi dan Libya. Demikian seperti dikutip dari The Guardian, 18 Mei 2018.

Ancaman itu disampaikan Donald Trump di Gedung Putih Kamis, 17 Mei 2018 kemarin, ketika pers memintanya berkomentar seputar usulan yang disampaikan oleh Penasihat Kepresidenan bidang Keamanan Nasional, John Bolton.

Bolton sebelumnya mengatakan bahwa ‘model Libya’ akan menjadi contoh bagi Amerika Serikat untuk bernegosiasi dengan Korea Utara pada 12 Juni di Singapura nanti.

Model Libya yang dimaksud Bolton merujuk pada perjanjian yang dibuat antara Amerika Serikat – Khadafi pada Desember 2003, di mana diktator Libya itu diwajibkan untuk melucuti program senjata nuklirnya dan menyerahkan teknologi pengayaan uranium (enriched uranium), yang merupakan bahan baku senjata nuklir, kepada Amerika Serikat.

Akan tetapi, Donald Trump tidak menyadari tentang perjanjian itu dan menafsirkan ‘model Libya’ yang disebut oleh John Bolton dengan interpretasi yang berbeda. Dia justru menginterpretasikan ‘model Libya’ yang disebut Bolton sebagai intervensi NATO terhadap rezim Khadafi pada tahun 2011.

Pada tahun itu, NATO mendukung dan membantu kelompok oposisi yang berusaha untuk menggulingkan Khadafi. Pada akhirnya, Khadafi berhasil digulingkan dan tewas di tangan pemberontak di Tripoli.

“Jika Anda lihat model yang diterapkan pada Khadafi, model itu adalah penumpasan total (terhadap rezim dan Khadafi). Kami datang ke sana dan mengalahkannya,” kata Donald Trump menginterpretasikan ‘model Libya’ yang diutarakan John Bolton.

“Sekarang, model seperti itu akan diterapkan (terhadap Kim Jong-un dan Korea Utara) jika kita tidak mencapai kesepakatan (soal denuklirisasi dan perlucutan senjata). Tapi jika kita membuat kesepakatan itu, Kim Jong Un akan menjadi orang yang paling bahagia,” tambahnya.

“(Jika kesepakatan itu tercapai) Kim Jong Un akan tetap di sana. Ia tetap akan memerintah negaranya dan negaranya akan menjadi kaya,” lanjut Donald Trump.

Ketika ditanya apakah komentar itu mengindikasikan bahwa Donald Trump tidak sepakat dengan penasihat keamanan nasionalnya, presiden ke-45 Amerika Serikat itu mengatakan, “Saya pikir, ketika Bolton membuat pernyataan itu, dia berbicara tentang kemungkinan masalah yang mungkin kita hadapi (jelang KTT Korea Utara – Amerika Serikat). Karena, kita tidak bisa membiarkan negara itu memiliki nuklir. Kami tidak bisa membiarkannya.”

Menurut analis, komentar yang dibuat Donald Trump tidak hanya menginterpretasikan ‘model Libya’ secara keliru, tetapi juga memiliki nada ancaman terhadap Kim Jong Un. Ancaman itu justru akan berpotensi semakin memperkeruh hubungan kedua negara jelang KTT Korea Utara – Amerika Serikat pada 12 Juni nanti.

“Sungguh waktu yang tidak tepat bagi Donald Trump untuk mengutarakan ancaman seperti itu, tiga pekan jelang KTT,” lanjut Joel Wit, analis senior US-Korea Institute Johns Hopkins University yang juga mantan negosiator Amerika Serikat.

Saat ini, KTT Korea Utara – Amerika Serikat pun tengah terancam batal usai Pyongyang mengancam untuk menghentikan pertemuan itu. Korea Utara mengutarakan bahwa Washington terus melakukan provokasi dengan ‘memaksakan kehendak untuk denuklirisasi secara sepihak’ serta ‘terus melanjutkan latihan militer bersama Korea Selatan di semenanjung’.

Pemerintah Amerika Serikat pun sejak beberapa pekan terakhir bersikeras bahwa tolak ukur keberhasilan KTT Korea Utara – Amerika Serikat nanti adalah persetujuan Pyongyang untuk melakukan denuklirisasi dan perlucutan senjata secara total.

Namun, meskipun Pyongyang mengancam untuk membatalkan KTT, Donald Trump tetap optimis bahwa pertemuan itu akan tetap berlangsung.

Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Heather Nauert, mengatakan, “Kami terus mendorong ke depan dan merencanakan persiapan kami. Mereka melanjutkan negosiasi awal pada saat ini untuk pertemuan antara presiden dan Kim Jong Un pada bulan Juni.”

Sumber: Liputan6

Berita Akurat | Berita Akurat Terpercaya | Berita Terkini | Situs Berita Terpercaya | Berita Akurat Terkini

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *